BRIDA KSB Dorong Terbentuknya Ekosistem Riset Inklusif Kolaboratif
Taliwang, MediaKSB, – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) terus mendorong terbentuknya ekosistem riset yang inklusif dan kolaboratif dengan melibatkan berbagai pihak, baik dari lembaga pendidikan tinggi maupun peneliti independen.
Kepala BRIDA KSB, Mars Anugerainsyah, S.Hut., M.Si., CGCAE., menegaskan bahwa penguatan sistem riset daerah menjadi langkah strategis dalam membangun tata kelola pengetahuan yang terbuka dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Mars menjelaskan, BRIDA KSB saat ini telah memiliki fungsi sebagai Dewan Riset Daerah yang telah memiliki legalitas melalui Surat Keputusan (SK) Bupati. Dalam struktur tersebut, telah bergabung sejumlah akademisi dari Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) dan Universitas Cordova (Undova) yang akan menjadi mitra strategis dalam mengembangkan penelitian berbasis kebutuhan daerah.
“Teman-teman dari perguruan tinggi sudah bergabung dalam Dewan Riset. Ke depan, tentu kita akan terus kembangkan kolaborasi ini dengan melibatkan lebih banyak orang-orang berkualitas secara akademis,” ujarnya, Selasa (21/10).
Mars menekankan pentingnya membangun sistem riset yang tidak eksklusif. Menurutnya, kegiatan riset di daerah harus dilakukan secara terbuka agar hasilnya dapat dimanfaatkan lintas sektor dan lintas lembaga.
Dengan sistem yang terbuka, masyarakat, akademisi, maupun lembaga swasta dapat saling bertukar informasi dan berkontribusi dalam menghasilkan inovasi yang relevan.
“Yang kami ingin tekankan adalah membangun sistem riset yang baik, jadi riset tidak hanya menjadi kegiatan eksklusif. Semua pihak bisa terlibat, dan hasilnya bisa dirasakan lebih luas,” jelasnya.
Selain itu, Mars juga mendorong agar sinergi antara peneliti di Sumbawa dan Sumbawa Barat terus diperkuat. Kolaborasi tersebut akan membuka peluang pertukaran riset dan pemanfaatan sumber daya antar daerah.
“Misalnya, peneliti dari UTS dapat melakukan riset di Sumbawa Barat, dan sebaliknya, peneliti dari Undova bisa melakukan kajian di Sumbawa Besar. Ekosistem riset ini memungkinkan kolaborasi lintas daerah dan lintas disiplin. Dengan begitu, hasil penelitian bisa lebih kaya dan berdaya guna bagi pembangunan daerah,” tutup Mars. (M-01)

