Sumbawa Barat Targetkan Angka Stunting Turun Jadi 5,6 Persen di Tahun 2029

Bagikan ke :

Taliwang, MediaKSB, – Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menargetkan angka stunting turun hingga 5,6 persen pada tahun 2029. Target ini dicanangkan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) sebagai bentuk komitmen dalam menekan prevalensi stunting yang masih menjadi persoalan di daerah.

Kepala DP2KBP3A KSB, Agus Purnawan, S.Pi., M.M., menyampaikan, target tersebut diyakini realistis dan dapat dicapai apabila seluruh pihak dapat bekerja bersama. “InsyaAllah di tahun 2029, kita sudah mencanangkan penurunan angka stunting ini di angka 5,6 persen. Tentunya saya percaya ini adalah angka optimis yang bisa kita raih,” ujarnya saat Rakor ke II Tim Percepatan Penurunan Stunting beberapa waktu lalu.

Agus menambahkan, upaya penanganan stunting dapat dilakukan secara kolektif seperti dengan bantuan dari pihak ketiga, termasuk sektor swasta seperti PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), serta kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD). “Kerja bersama adalah kunci, mulai dari hulu sampai hilir,” tegasnya.

Menurut Agus, fokus intervensi kini tidak hanya ditujukan pada balita, tetapi juga diperluas kepada ibu hamil dan calon pengantin. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah stunting sejak dini dengan memastikan kesehatan ibu dan kesiapan calon pasangan sebelum memasuki jenjang pernikahan.

Sementara itu, Kecamatan Sekongkang disebut menjadi salah satu wilayah penyumbang angka stunting yang cukup tinggi di KSB. Camat Sekongkang, Nurul Syaspri Akhdiyanti, mengungkapkan, penyebab stunting di Sekongkang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pernikahan dini, kondisi ekonomi keluarga, hingga pola asuh.

“Masih banyak ibu-ibu yang melahirkan anak di usia muda, ada faktor ekonomi karena sebagian besar bekerja sebagai petani, ditambah pola asuh dan asupan makanan yang belum seimbang,” jelasnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah kecamatan telah mengalokasikan anggaran khusus bagi pemberian makanan bergizi tambahan kepada sasaran stunting. Selain itu, kolaborasi dengan berbagai pihak terus ditingkatkan agar program penanganan dapat berjalan efektif.

Nurul menegaskan, upaya penurunan stunting memerlukan kesadaran kolektif dari masyarakat. “Intervensi pemerintah saja tidak cukup. Diperlukan partisipasi keluarga dalam memperhatikan pola asuh, kesehatan ibu hamil, hingga pemenuhan gizi anak,” katanya.

Dengan target penurunan hingga 5,6 persen pada 2029, Pemerintah KSB menegaskan keseriusannya dengan menempatkan isu stunting sebagai prioritas pembangunan sumber daya manusia. Program lintas sektor diharapkan dapat menjadi langkah untuk melahirkan generasi sehat dan berkualitas di masa depan. (M-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *