Kades Bukit Damai Dukung Maluk Jadi Laboratorium Pertanian

Maluk, MediKSB, – Kepala Desa Bukit Damai, Suwardi, mendukung penuh atas rencana Bupati Sumbawa Barat H. Amar Nurmansyah menjadikan Kecamatan Maluk sebagai laboratorium pertanian organik Kabupaten Sumbawa Barat (KSB).
“Kami sangat mendukung langkah Bupati menjadikan Maluk sebagai laboratorium pertanian organik. Ini peluang besar bagi desa-desa lain, termasuk Bukit Damai, untuk belajar dan mereplikasi keberhasilan ini,” ujar Suwardi saat panen perdana padi System of Rice Intensification (SRI) organik di Desa Benete, Maluk, beberapa waktu lalu.
Suwardi menyebut keberhasilan petani Desa Benete menjadi bukti pertanian organik bisa tumbuh subur di KSB. Kades mendorong petani Bukit Damai untuk mulai membuka diri terhadap konsep pertanian sehat dan berkelanjutan yang telah terbukti berhasil.
“Keberhasilan ini harus mulai diterapkan di desa lain, misal di Bukit Damai. Dampaknya akan sangat luar biasa, khususnya untuk petani kita,” harapnya.
Bupati KSB, H. Amar Nurmansyah hadir langsung menyaksikan panen perdana padi SRI organik di lahan pertanian Desa Benete. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) bersama petani lokal.
Bupati Amar menyatakan kegembiraannya atas capaian petani Desa Benete. Ia langsung menginstruksikan dua kepala dinas untuk merancang program pembelajaran berkelanjutan. “Kesuksesan di Desa Benete harus menjadi titik awal kemajuan sektor pertanian sehat di Kabupaten Sumbawa Barat secara menyeluruh,” tegas Amar.
Bupati memproyeksikan Kecamatan Maluk bukan sekadar laboratorium pembelajaran, tetapi juga akuarium — tempat memperlihatkan hasil nyata pertanian organik kepada petani dari kecamatan lain. Konsep ini dirancang agar mudah direplikasi ke seluruh wilayah KSB.
Kepala Dinas Pertanian, Jamilatun, S.P., M.M.Inov., dan Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Nurul Syaspri Akhdiyanti, S.P., M.P., mendapat instruksi langsung dari bupati agar segera memformulasikan program pembelajaran pertanian organik dalam kurun waktu satu tahun ke depan.
Ketua Presidium Pertanian Organik, Hamzah, menyebut panen ini merupakan hasil pendampingan intensif sejak September 2025. Hamzah berharap keberhasilan ini segera didukung regulasi daerah yang kuat agar pertanian organik KSB memiliki landasan hukum yang kokoh.
Perwakilan petani, Samsudin Majid, meminta pemerintah dan AMMAN memastikan pendampingan terus berlanjut. Petani ingin mencapai kemandirian penuh dalam mengelola pertanian organik tanpa terus bergantung pada pihak luar. (M-03)
