Angin Kencang Ratakan Rumah Warga Desa Banjar Saat Berbuka

Taliwang, MediaKSB, – Suasana berbuka puasa di Desa Banjar, Kecamatan Taliwang, berubah menjadi kepanikan setelah sebuah rumah milik warga bernama Suhardi rata dengan tanah, Selasa (24/2).
Bangunan yang terletak di RT 01 RW 03 tersebut mendadak ambruk akibat terjangan hujan lebat dan angin kencang yang melanda wilayah Sumbawa Barat tanpa henti sejak pagi hingga sore hari.
Kejadian memilukan ini menambah daftar panjang dampak cuaca ekstrem di awal tahun 2026. Beruntung, Suhardi beserta anggota keluarganya sudah mengosongkan rumah sesaat sebelum kejadian karena merasa khawatir melihat awan hitam dan angin yang berhembus sangat kencang di sekitar lingkungan mereka.
“Kami sudah mengungsi lebih dulu karena melihat cuaca yang cukup ekstrem hari ini, jadi saat rumah ambruk posisi kami sudah di tempat yang aman,” ungkap, Suhardi.
Kepala Desa Banjar, Ahmad Suryo, membenarkan bahwa konstruksi rumah tersebut memang sudah masuk dalam daftar pengawasan pihak desa. Pemerintah desa sebenarnya telah mengajukan bantuan perbaikan rumah Suhardi melalui program “KSB Maju” sejak Januari 2026, namun birokrasi yang sedang berjalan belum sempat membuahkan hasil hingga alam meruntuhkannya.
“Ya benar pak, kami sudah mengusulkan rumah ini ke Dinas Perkim Januari 2026 kemarin, namun keburu ambruk oleh angin dan hujan. Kondisi kayu dan atap genteng memang tidak sesuai lagi dengan usianya,” kata Ahmad Suryo.
Aksi Cepat dan Tanggapan dari Pemerintah
Aksi cepat tanggap langsung terlihat di lapangan saat jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial, dan Dinas Perkim KSB turun meninjau langsung kondisi kerusakan.
Pemerintah daerah kini sedang memproses skema bantuan khusus agar keluarga Suhardi tidak kehilangan tempat berteduh terlalu lama di tengah bulan Ramadhan.
“Kalo melalui program KSB Maju memang belum berjalan sekarang karena kami masih mengejar progres renovasi RTLH tahun 2025,” jelas Sekretaris Dinas Perkim KSB, Firmansyah, S.IP.
Firman menegaskan, musibah ini akan dialihkan ke skema penanganan bencana agar proses pembangunannya bisa lebih cepat. Langkah ini diambil karena jika menunggu program reguler, kondisi warga yang terdampak akan semakin sulit di tengah situasi cuaca yang masih tidak menentu.
“Kalau masuk ke penanganan bencana maka akan langsung kami tangani lewat skema anggaran bersama BPBD agar prosesnya lebih kilat,” pungkas Firman. (M-01)
