Beda Layanan, KSB Manjakan Tamu Porprov dengan Minibus

Taliwang, MediaKSB, – Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) tampil kontras dibanding penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII NTB di Mataram dan Lombok Barat, yang justru diwarnai keluhan transportasi. Sebagai tuan rumah dua cabang olahraga, KSB menyiapkan satu unit minibus khusus untuk setiap kontingen kabupaten/kota, Sabtu (18/7).
Sekretaris KONI KSB, Mars Anugerainsyah, S.Hut., M.Si., menjelaskan, layanan tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada tamu sekaligus menjaga nama baik daerah selaku tuan rumah.
“Bapak Bupati memberikan arahan yang sangat jelas agar tamu dilayani dengan sebaik-baiknya. Karena itu, KONI KSB menyiapkan satu unit minibus untuk setiap kabupaten dan kota yang bertanding di sini,” ujarnya.
Kebijakan ini muncul atas instruksi langsung Bupati Sumbawa Barat, Haji Amar, yang meminta seluruh jajaran KONI KSB memastikan pelayanan optimal bagi kontingen yang bertanding di cabang Panahan dan Hapkido. Minibus tersebut bertugas mendampingi setiap kontingen daerah sejak kedatangan hingga kepulangan mereka, sehingga seluruh kebutuhan mobilitas atlet dapat terpenuhi tanpa hambatan.
Mars menegaskan, pelayanan yang baik merupakan bagian dari prestasi penyelenggaraan, bukan sekadar fasilitas tambahan bagi tamu yang datang bertanding. “Kami ingin memastikan kenyamanan mereka, sebab pelayanan yang baik adalah bagian dari prestasi penyelenggaraan,” tegasnya.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan yang dialami sejumlah cabang olahraga asal KSB saat bertanding di Mataram dan Lombok Barat. Mars mengungkapkan, armada yang dijanjikan panitia pelaksana di dua wilayah tersebut tidak tersedia tepat waktu, sehingga beberapa cabang olahraga sempat telantar dan sulit mencapai lokasi pertandingan.
“Kami sangat menyayangkan pelayanan transportasi yang menjadi tanggung jawab panitia di Mataram dan Lombok Barat. Faktanya, beberapa cabang olahraga tidak terlayani dengan baik. Demi mengejar jadwal pertandingan, official terpaksa meminta atlet menggunakan angkutan umum berbayar agar tidak tertinggal sesi bertanding,” katanya.
Menurut Mars, persoalan transportasi sebagai kebutuhan paling mendasar dalam penyelenggaraan kompetisi multi-event yang seharusnya tidak diabaikan oleh panitia manapun. Mars juga menilai kegagalan pengelolaan moda transportasi merugikan kontingen sekaligus menurunkan kredibilitas penyelenggara secara keseluruhan di mata seluruh peserta Porprov.
“Atlet datang untuk bertanding dan mengukir prestasi, bukan untuk disibukkan mencari kendaraan menuju arena pertandingan,” tutup Mars. (M-01)
