Ibu yang Berlari Sekali Lagi:Pergi Membawa Mimpi, Tinggal Membawa Doa

Di balik gemerlap beasiswa kejuruan dan geliat persiapan SDM Sumbawa Barat, ada jemari ibu yang bergetar melepas anak bujangnya bertaruh nasib di tanah Jawa.
Halaman Masjid Agung Darussalam Taliwang sore itu mendadak hening ketika deru mesin bus warna biru mulai menderum pelan. Langit Sumbawa Barat beratap cerah, namun di sudut pelataran masjid, hembusan angin membawa aroma perpisahan yang berat. Garis-garis pintu bus perlahan tertutup rapat.
Puluhan orang tua yang tadi berdiri sejajar menatap kaca kendaraan, mulai mengambil langkah mundur secara berangsur. Ada gestur pasrah yang menggantung di udara, gestur kepasrahan khas orang-orang kampung ketika harus merelakan buah hati mereka melangkah jauh melintasi selat dan lautan.
Namun kepasrahan itu pecah ketika seorang perempuan paruh baya tiba-tiba melangkah cepat, lalu berlari menerobos kerumunan peserta lain yang masih mengantri naik. Ia tidak peduli pada tatapan mata di sekelilingnya. Matanya hanya tertuju pada satu wajah, wajah anak laki-lakinya yang duduk terpaku di kursi bus.
Tanpa kata, perempuan itu merengkuh tubuh putranya keras-keras, memeluk sekencang yang ia sanggup, lalu mendaratkan kecupan berkali-kali di pipi dan kening sang anak. Seolah-olah pelukan hangat sepuluh menit yang lalu belum cukup untuk membungkus seluruh doa, rasa cemas, dan harapan yang bertumpuk di dadanya.
Anak laki-laki yang dipeluknya rapat-rapat itu bernama Dirga Haidarraid Ramadhan. Dan perempuan yang berlari tanpa alas ragu itu adalah ibunya sendiri.
Sore itu, Kamis, 9 Juli 2026, Dirga tidak sedang berangkat untuk bertamasya. Bersama 33 anak muda lainnya asal Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), remaja lulusan SMPN 1 Seteluk ini dilepas secara resmi oleh Bupati Sumbawa Barat H. Amar Nurmansyah di Kantor Sekretariat Daerah. Mereka adalah para peraih beasiswa AMMAN Scholars 2026, sebuah program investasi sosial PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) yang telah berjalan selama enam tahun berturut untuk menggembleng generasi muda KSB di sekolah-sekolah kejuruan unggulan di Kudus, Malang, hingga Ponorogo.
Genggaman Tangan dan Bahasa Perhotelan

Beberapa jam sebelum adegan dramatis di pintu bus itu terjadi, Dirga berdiri di depan kantor Bupati KSB. Mengenakan topi dan rompi hitam berlogo AMMAN yang masih mulus licin, penampilan fisiknya menyiratkan ketegasan. Namun gerak-gerik tubuhnya menyimpan cerita lain. Ketika diajak berbincang usai seremoni pelepasan, Dirga berusaha keras menata artikulasinya. Suaranya terdengar lantang, sesuai petunjuk agar tidak grogi di depan kamera. Tetapi volume vocal yang konstan itu justru membocorkan getar gugup di dalam dadanya.
Sepanjang diwawancarai, kedua tangannya tak pernah berhenti bergerak. Tangan kanannya menggenggam jemari tangan kirinya sendiri dengan sangat kuat, seolah mencari pegangan agar tubuhnya tetap bertengger kokoh di atas tanah.
“Perasaan saya diterima di AMMAN Scholars, saya sangat senang. Saya sangat membanggakan kedua orang tua saya. Dan ini adalah impian bagi saya sejak lama,” tutur Dirga.
Bagi Dirga, menembus beasiswa AMMAN Scholars menuju SMK PGRI 1 Kudus, Jawa Tengah, jurusan Perhotelan, bukanlah takdir yang jatuh tiba-tiba dari langit. Benih impian itu sudah disemainya sejak ia duduk di kelas satu SMPN 1 Seteluk.
Hari demi hari, Dirga menyaksikan kakak-kakak tingkatnya berkemas, membawa koper besar, lalu pulang beberapa tahun kemudian dengan ketrampilan dan wibawa yang berbeda. Pengamatan intuitif anak SMP itu menumbuhkan tekad kuat yang membakar jiwanya.
Pilihan pada jurusan perhotelan pun bukan kebetulan yang dicari-cari. Sejak kecil, Dirga memiliki keterikatan khusus dengan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Ia memahami betul bahwa dunia hospitality modern tak cuma membutuhkan ketrampilan teknis melayani tamu, melainkan kepiawaian merajut komunikasi global.
“Di jurusan perhotelan ini tidak hanya skill praktisnya saja, tetapi kemampuan bahasa asing juga harus ditingkatkan,” ujarnya mantap.
Pikirannya melayang jauh melampaui batas daratan Sumbawa, Dirga memimpikan suatu hari kelak dapat bekerja di atas kapal pesiar megah yang membelah samudera Eropa.
Namun, untuk melangkah sejauh itu, Dirga harus melewati saringan ketat. Proses seleksi AMMAN Scholars terkenal tidak kompromi. Dari seleksi berkas, Tes Potensi Akademik (TPA), hingga wawancara mendalam.
“Tahap seleksinya sangat sulit. Paling sulit menurut saya saat sesi interview,” kenangnya seraya menarik napas dalam-dalam. Namun penderitaan seleksi itu terbayar tuntas ketika namanya diumumkan lolos.
Hanya saja, keteguhan sikap anak muda ini perlahan lumer saat pertanyaan bergeser pada satu topik sensitif tentang perpisahan dengan rumah. Detik itu juga, genggaman tangannya kian mengencang. Matanya yang semula menatap tajam ke lensa kamera, mendadak berbelok. Pandangannya menoleh jauh ke seberang halaman, menatap lurus ke sudut taman masjid di mana ayah dan ibunya duduk lesehan menunggu.
“Gak ada sih yang dikhawatirkan… paling rasa rindu rumah,” tutur Dirga pelan. Sebuah senyum tipis mengembang di bibirnya, senyum ringkas yang berusaha menyembunyikan getar emosi yang rapuh.
Doa Lesehan dan Ikhlas Orang Tua

Di seberang pelataran, bayang-bayang sore mulai memanjang. Di atas rumput taman Masjid Agung Darussalam Taliwang, ibu dan ayah Dirga duduk lesehan bersama empat keluarga lainnya. Ketika langkah mendekat untuk meminta kesediaan diwawancarai, sang ibu mendadak canggung. Kebiasaan warga bersahaja di daerah, mereka kerap merasa tak pantas masuk ke dalam warta.
“Bapaknya saja, saya tidak usah,” bisik sang ibu penuh rasa malu, sambil menarik ujung kain jilbab besarnya untuk menutupi separuh wajah dan mulutnya. Perlu waktu dan persuasi hangat hingga akhirnya perempuan tangguh itu bersedia membagikan kisah di samping suaminya.
Ayah Dirga, seorang pria dengan tatapan matanya yang tenang dan matang, tak sanggup menyembunyikan binar kebanggaan. Bagi keluarga bersahaja ini, bisa mengantarkan anak laki-laki mereka menembus beasiswa bergengsi adalah capaian di luar batas bayangan.
“Dia sejak kelas 1 SMP memang sudah berniat untuk masuk AMMAN Scholars. Dia melihat dari kakak-kakak tingkatnya dan selalu berharap bisa masuk. Kami sebagai orang tua tentu sangat bangga dan bersyukur,” kata ayah Dirga.
Mendengar penuturan suaminya, sang ibu menyela pendek dengan suara bergetar, “Alhamdulillah, saya sangat bangga,” wajahnya memerah menahan keharuan yang meluap.
Ibu Dirga bercerita bagaimana Dirga kecil kerap menghabiskan waktu mempelajari kosakata bahasa Inggris secara mandiri. Sebuah minat alamiah yang kelak mengarahkan kompas hidupnya ke dunia perhotelan.
Melepas anak pergi berlayar ke Pulau Jawa tentu bukan urusan sepele bagi orang tua mana pun. Ada cemas yang mengintai tentang lingkungan baru, pergaulan bebas, hingga ketatnya persaingan akademis di rantau. Namun, sang ayah memilih menyikapi kecemasan itu dengan ketenangan seorang nakhoda.
“Itu tergantung anaknya. Yang penting kami orang tua sudah memberi dia motivasi dan bekal kemandirian sejak awal. Kalau kekhawatiran dan ketakutan sebagai orang tua, itu hal yang sangat wajar. Dia sekolah di luar daerah, lingkungan pergaulannya baru, persaingan akademisnya ketat, tapi kita sudah mempersiapkan itu dari rumah,” tegas sang ayah seraya melirik lembut ke arah istrinya.
Bahkan ketika disinggung mengenai cita-cita liar Dirga yang ingin melanglang buana hingga ke kapal pesiar Eropa, tidak ada nada penahanan dari kedua orang tuanya. Keikhlasan mereka sudah bulat.
“Kalau itu selagi baik untuk Dirga, ya kita support saja,” ucap sang ibu dengan senyum lebar yang mendadak terkembang cerah. “Kalau memang terbaik untuk Dirga, jelas kita selalu support,” timpal ayahnya menyempurnakan.
Cetak Biru Pascatambang dan Jejak Pulang

Pelepasan 34 siswa AMMAN Scholars 2026 ini sejatinya merupakan bagian dari gambaran besar transisi sosial ekonomi di Kabupaten Sumbawa Barat. Daerah yang kaya akan sumber daya tambang ini menyadari betul bahwa pengerukan perut bumi memiliki batas usia. Dalam sambutannya, Bupati Sumbawa Barat H. Amar Nurmansyah menegaskan pentingnya konsistensi pembangunan manusia di luar sektor ekstraktif.
“Saya sangat mengapresiasi enam tahun berjalannya AMMAN Scholars ini, termasuk fellowship olahraga. Sesuai tagline AMMAN ‘Generasi Terbaik’, ini sangat selaras dengan program daerah tentang industrialisasi ketenagakerjaan dan penguatan SDM menghadapi masa pascatambang,” ujar Bupati Haji Amar.
Sejak digulirkan enam tahun silam, program ini telah memberangkatkan lebih dari 350 anak muda KSB dan Kabupaten Sumbawa ke pelbagai institusi vokasi bereputasi. Namun, muncul pertanyaan klasik yang sering menggantung di benak masyarakat. Apakah anak-anak yang telah mencicipi kemajuan tanah Jawa ini bakal kembali membangun kampung halamannya?
Priyo Pramono, Vice President Policy & Permitting and Social Impact AMMAN, memberikan perspektif realistis mengenai dinamika para alumnus. Menurutnya, capaian program vokasi tidak melulu diukur dari penyerapan kerja seketika.
“Banyak dari mereka yang sedang menjalani proses mencari jati diri di tempat terbaik. Ada yang langsung bekerja, melanjutkan kuliah, hingga membuka usaha sendiri baik di KSB maupun di luar daerah,” terangnya.
Jawaban atas kecemasan orang tua Dirga justru tercermin dari rekam jejak Ahyati Mulya atau yang akrab disapa Aya. Aya adalah alumni angkatan pertama AMMAN Scholars yang menimba ilmu di SMK Raden Umar Said (RUS) Kudus, sebuah sekolah kejuruan animasi dan desain ternama.
Begitu lulus dari Kudus, keahlian desain grafis Aya langsung memikat industri kreatif nasional. Dua perusahaan kelas atas di Jakarta dan Yogyakarta menyodorkan kontrak kerja resmi kepadanya. Namun, di tengah silau tawaran karier metropolitan, Aya justru mengambil keputusan radikal. Ia memilih menolak tawaran tersebut dan pulang ke Sumbawa Barat demi merawat ibunya.
“Dengan pertimbangan yang besar, saya lebih memilih pulang ke KSB untuk menemani ibu di rumah. Prinsip saya, rencana boleh berubah tapi hidup harus terus berjalan. Selama kita punya skill, pengalaman, kreativitas, dan pribadi yang baik, peluang kerja akan selalu terbuka lebar,” ujarnya.
Kini, Aya dipercaya mengelola brand identity dan strategi media sosial sebuah usaha kuliner lokal bernama Bene Residence and Eatery di Desa Benete. Kisah Aya memberi bukti otentik, sejauh apa pun burung terbang menuntut ilmu, ruang untuk berbakti dan berkarya di tanah kelahiran akan selalu terbuka lebar.
Pelukan Terakhir dan Janji yang Dibawa Lari

Malam mulai merayap jatuh di pelataran Masjid Agung Darussalam Taliwang. Jarum jam menunjukkan waktu pemberangkatan. Usai menunaikan ibadah shalat Isya, puluhan siswa penerima beasiswa kembali berkumpul di pelantaran Masjid. Dua bus berukuran besar telah bersiap memuat rombongan menuju Pelabuhan Poto Tano, sebelum menyeberang ke Pulau Lombok dan terbang menuju Jawa.
Tim Social Impact AMMAN mulai memanggil nama peserta satu per satu. Dirga berdiri di barisan bus kedua. Bantal leher melingkar di dadanya, dan jaket tebal pemberian AMMAN tersemat rapi di tubuhnya. Wajah anak muda itu kini sembab. Beberapa kali jemarinya mengusap air mata yang tak sanggup dibendung. Lehernya terus menoleh ke belakang, mencari-cari sesosok wajah yang paling ia rindukan di dunia.
Di sudut kejauhan, ayah dan ibunya berdiri membisu. Tak ada kata-kata terucap. Sang ayah hanya merangkul erat pundak istrinya yang mulai terisak pelan di balik selubung jilbab besarnya. Ketika nama Dirga akhirnya dipanggil di pertengahan daftar absensi, sang ibu tak mampu lagi menahan diri. Ia melangkah cepat mendekati bus. Senyum bahagianya saat wawancara sebelumnya telah lenyap, berganti dengan genangan air mata hampa.
Tepat di anak tangga bus, sang ayah menghentikan langkah Dirga sejenak. Ia memegang kedua pundak anaknya, menatap matanya dalam-dalam, lalu membisikkan pesan terakhir yang sarat beban moral: “Semangat ya. Ingat janji ya… jaga nama baik KSB. Ingat itu!” tegas ayah Dirga.
Kalimat itu menjadi pemantik runtuhnya benteng pertahanan emosi Dirga. Tangis anak muda itu pecah seketika, tersedak-sedak hingga suaranya tak lagi membentuk kata yang jelas. Kerabat keluarga lain datang memeluknya bergantian. Sang ibu lalu mendekat, merengkuh tubuh Dirga sangat erat, begitu eratnya hingga bantal leher di leher anaknya nyaris terlepas. Sang ayah menepuk-nepuk punggung putranya berkali-kali, menyalurkan keteguhan seorang pria.
Dengan langkah berat dan mata memerah, Dirga akhirnya memanjat tangga bus biru itu. Dari balik jendela kaca berdebu, ia terus menatap kedua orang tuanya yang berdiri kaku di luar. Semua orang mengira prosesi perpisahan telah usai.
Namun tepat saat roda bus mulai berputar lambat, ibu Dirga mendadak berlari. Ia menerobos antrian peserta lain yang masih berada di pintu, memanjat tangga cepat-cepat, lalu memeluk dan mencium anak laki-lakinya sekali lagi. Sebuah kebiasaan kasih sayang ibu yang tak kenal batas protokoler.
Setelah turun kembali dengan napas memburu, perempuan itu berdiri tegak di samping bus yang perlahan bergerak melintasi gerbang Masjid Agung. Tangannya terangkat tinggi ke udara, jemarinya bergerak lembut mengusap angin malam seraya merajut doa-doa keselamatan.
Wajah ibu Dirga pucat pasi di bawah pendar lampu jalan, sebuah raut takjub campur aduk seakan belum sepenuhnya percaya bahwa anak laki-laki yang setiap hari ia timang dan rawat di kamar kecil rumah mereka, kini benar-benar telah pergi jauh.
Dirga telah pergi membawa mimpi besar dari tanah Pariri Lema Bariri. Dan yang tersisa di pelataran masjid malam itu hanyalah seorang ibu, berdiri sendirian, menimang doa yang tak putus-putus. (M-03)
