Berawal dari Mimpi, AMMAN Bawa Anak Kampung Merumput di Panggung Profesional
Taliwang, MediaKSB, – Sore itu, matahari mulai turun di balik bukit lapangan Desa Seteluk Atas, Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Di lapangan kecil yang dikelilingi pohon kelapa, seorang remaja berkaos hijau memungut bola dari rumput yang masih basah. Nafasnya terengah, tapi matanya bersinar penuh dengan harapan.
“Saya ingin suatu hari nanti, orang-orang kampung saya bisa nonton saya di televisi,” ujarnya, tersenyum malu.
Namanya Gibran Zaky, anak dari pasangan Yogi Rizky Junistra dan Nur Pitriah yang sedang menapaki jalan panjang menuju mimpinya, menjadi pemain sepak bola profesional.
Bagi Zaky, sepak bola adalah jalan hidup, ruang untuk bermimpi di tengah realitas anak kampung. Sejak kecil, Zaky biasa bermain di lapangan tanah berdebu bersama teman-temannya, berlari tanpa alas kaki, menendang bola plastik hingga pudar warnanya. Tak ada pelatih, tak ada wasit yang ada hanyalah euphoria anak-anak.
“Sejak kecil, Zaky memang sudah suka main bola. Bakatnya sudah kelihatan sejak SD,” ujar Yogi, sang ayah yang sedang duduk di samping Zaky.
“Kalau tidak main bola, rasanya kosong,” saut Zaky sambil tersenyum.

Seleksi Ketat Menuju Panggung Profesional, Antara Mimpi dan Kenyataan
Tahun 2023, menjadi awal dari perjalanan Zaky menuju panggung professional. AMMAN bersama dengan PSS Sleman membuka program beasiswa Football Fellowship. Sebuah program yang mempertemukan antara bakat anak bangsa dengan panggung profesional.
Lebih dari 400 remaja se-KSB beradu skill mengolah si kulit bundar. Ratusan peserta disaring hingga dipilih 12 talenta terbaik yang akan menjalani pelatihan intensif selama di Sleman, dan Zaky adalah salah satunya.
“Waktu nama saya dipanggil, saya hampir gak percaya. Saya bulatkan tekad kalau ini adalah langkah pertama untuk mewujudkan mimpi saya,” kenangnya.
Selama satu tahun penuh Zaky berjuang dan berlatih dengan keras sembari menyelesaikan pendidikan jenjang SMP di Sleman. Di bawah bimbingan pelatih profesional, Zaky belajar teknik, disiplin, gizi yang baik, dan psikologi olahraga.
“Pernah selama dua minggu, kami latihan seperti pemain liga sungguhan,” kata Zaky, matanya berbinar.
“Bangun subuh, latihan pagi, makan teratur, istirahat cukup. Rasanya berat, tapi menyenangkan,” ujarnya sambil menghela nafas.
Usaha tak menghianati hasil, begitu kata pepatah. Zaky bersama teman sekampungnya dari KSB, Muhammad Nabil Fitrah, berhasil menembus Elite Pro Academy (EPA) PSS Sleman U-16. Sambil meneruskan pendidikan di bangku SMA, mereka berdua memperkuat PSS Sleman di Liga 1 Youth Indonesia
Dalam 18 pertandingan yang dilakoninya, Zaky mencatatkan gol dan assist saat melawan tim-tim besar seperti Arema U-16, Borneo FC, Persib Bandung, PSIS Semarang, hingga Persis Solo.
“Alhamdulillah, rasanya sangat senang dan orang tua juga ikut bangga,” ucapnya dengan nada haru.
Keterampilan Zaky mulai dilirik tim-tim besar lain pada kompetisi yang sama, salah satunya adalah PSIM Yogyakarta. Pada bulan September tahun 2025, Zaky secara resmi berlabuh di tim dengan julukan Laskar Mataram tersebut.

Membangun Ekosistem, Bukan Sekedar Turnamen
Masuknya Zaky ke tim PSS Sleman U-16 dan kini berkarir di PSIM Yogyakarta menjadi bukti nyata akan hadirnya kepedulian AMMAN terhadap masa depan putra putri daerah khususnya untuk anak-anak daerah yang ingin berkarir di dunia sepak bola profesional.
Program Sports for Development AMMAN tidak hanya sebatas pengembangan talenta muda berbakat melalui beasiswa Football Fellowship. Tahun 2023, AMMAN telah menggandeng Borussia Dortmund (BVB), klub sepa kbola level dunia yang berlaga di Bundesliga, Jerman, untuk mengembangkan karakter talenta muda selama dua tahun.
Selain itu, AMMAN bersama dengan ASKAB PSSI KSB menyelenggarakan Liga 1, 2, dan 3 KSB, serta kompetisi usia muda putra-putri dan penyandang disabilitas. Kompetisi tersebut difokuskan sebagai sarana membimbing talenta muda serta menambah jam terbang bagi para atlet sepak bola daerah.
Untuk membentuk ekosistem sepak bola yang lebih baik, AMMAN bersama ASKAB PSSI KSB juga memfasilitasi pelatihan untuk pelatih, wasit, dan manajemen klub. Mereka menggandeng berbagai mitra ternama seperti Persija Jakarta, PSS Sleman, ASA Foundation, dan BVB Dortmund untuk mendampingi dan meningkatkan kapasitas teknis pegiat sepak bola di KSB.
Hasil dari pelatihan yang diberikan, Sumbawa Barat berhasil melahirkan Noviah Salmiah, wasit wanita pertama yang berhasil lolos seleksi nasional untuk memimpin jalannya pertandingan di berbagai kategori, mulai dari kelompok umur, liga amatir, hingga kompetisi profesional berskala nasional.
“Artinya, pembinaan sepak bola kita sudah berjalan merata. Pemain, kepelatihan, perwasitan, semua berkembang maju tanpa ada yang tertinggal,” sebut Muhammad Ja’far, rekan sesama wasit di KSB.
Priyo Pramono, Vice President Social Impact AMMAN, menyampaikan, program Sports for Developmentmerupakan bagian dari strategi besar AMMAN dalam membangun ekosistem sepak bola berkelanjutandi Sumbawa Barat.
“Sepak bola adalah alat pembangunan sosial. Kami ingin anak-anak KSB punya akses yang sama untuk berkembang seperti anak di kota besar,” tegasnya.
“Inisiatif ini juga mencerminkan komitmen jangka panjang AMMAN untuk mendorong pertumbuhan sepak bola dengan memastikan bahwa baik pelatih, wasit maupun manajer tim, dilengkapi dengan teknik dan pengetahuan modern untuk mendukung infrastruktur sepak bola di Sumbawa Barat,” imbuhnya.
Program Sports for Development, sebagai salah satu inovasi dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) AMMAN pada pilar Human Capital Development (Pengembangan Sumber Daya Manusia), mengajarkan akan arti dari tumbuh dan berkembang. Menegaskan identitas kolektif baru bahwa Sumbawa Barat merupakan lumbung talenta sepak bola dari timur Indonesia.

Lapangan, Harapan, dan Generasi Baru
Senja kembali turun di langit Seteluk. Zaky berdiri di tengah lapangan sambil menggenggam bola di dadanya. Di kejauhan, anak-anak kecil berlari mengejarnya, tertawa keras. Zaky menatap horizon dan berkata lirih,
“Kalau saya nanti bisa bermain di Liga 1, saya akan kembali ke sini. Biar mereka lihat, bahwa mimpi itu bisa jadi nyata,” gumamnya.
Mungkin bagi sebagian orang, harapan itu mungkin hanyalah sebuah cita-cita dari seorang anak kampung. Tapi di Sumbawa Barat, di tengah ekosistem sepak bola yang kini semakin tumbuh berkat kolaborasi AMMAN dan masyarakat, mimpi seperti milik Zaky bukan lagi hal yang mustahil. Karena dari rumput hijau desa inilah, benih-benih masa depan sepak bola Indonesia mulai tumbuh dan berkembang. (M-04)

