BLK KSB Mulai Terapkan Mobile Training untuk Perluas Akses Pelatihan Kerja

Bagikan ke :

Taliwang, MediaKSB, – Dinas Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) melalui Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mulai menerapkan pola mobile training atau pelatihan jemput bola dengan langsung mendatangi calon peserta di kecamatan.

Program ini diterapkan perdana pada pelatihan instalasi listrik bangunan sederhana yang digelar di Kecamatan Sekongkang dan diikuti oleh 10 peserta dari tiga kecamatan. Langkah ini menjadi upaya BLK KSB untuk memperluas akses masyarakat terhadap pelatihan vokasi meski fasilitas BLK masih dalam proses pembangunan.

Kepala BLK KSB, Randy Darmansyah, S.IP., menjelaskan, mobile training dipilih sebagai strategi agar layanan pelatihan tetap berjalan dan menjangkau lebih banyak masyarakat. Randy merinci, peserta pada pelatihan perdana ini terdiri dari satu orang dari Jereweh, tiga dari Maluk, dan enam peserta dari Sekongkang.

“Kami bersurat ke desa-desa untuk meminta rekomendasi peserta. Jadi prosesnya tetap terukur dan transparan. Alhamdulillah hasilnya ada 10 peserta yang ikut,” jelasnya kepada wartawan, Selasa (18/11).

Pelatihan instalasi listrik ini dijadwalkan berlangsung selama 28 hari. Setelah peserta menyelesaikan seluruh tahapan pelatihan, BLK KSB akan memfasilitasi sertifikasi K3 sebagai syarat penting untuk memasuki dunia kerja.

Randy menegaskan, BLK KSB ingin menyiapkan peserta secara komprehensif, bukan hanya memberikan pelatihan secara teknis. “Kami ingin lengkap, sekali pelatihan langsung sampai mendapat K3. Supaya tidak ada lagi alasan dari perusahaan yang menolak karena tidak ada K3-nya. Jadi bukan hanya sertifikat keahlian saja, tapi sampai profesi,” tegasnya.

Konsep mobile training, lanjut Randy, merupakan program yang sebelumnya juga diterapkan di beberapa BLK daerah lain. Namun kini sebagian besar BLK telah memiliki fasilitas lengkap sehingga program tersebut jarang dilaksanakan.

Dalam kondisi berbeda, BLK KSB yang masih dalam tahap pembangunan memilih menghidupkan kembali pola ini agar proses pelatihan tetap berjalan. “Kami coba melaksanakan program tersebut agar BLK ini tetap aktif untuk memfasilitasi masyarakat ke dunia kerja,” ujarnya.

Randy berharap program mobile training dapat menjadi solusi sementara sekaligus model pelayanan yang lebih dekat dengan masyarakat. Kepala BLK ingin kehadiran BLK benar-benar dirasakan oleh warga, terutama mereka yang berada jauh dari pusat pelatihan.

“Harapan kami, program ini bisa membantu masyarakat menyiapkan diri bersaing di pasar kerja, sekaligus membuka peluang kerja baru di bidang kelistrikan dan sektor lainnya,” tutup Randy. (M-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *