Pemerintah KSB Masih Kaji Status Penerbitan Buku Mulok

Taliwang, MediaKSB, – Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) masih mengkaji status penerbitan Buku Muatan Lokal (Mulok) KSB, apakah akan diterbitkan resmi ber-ISBN atau hanya sebagai buku referensi tambahan di sekolah. Kajian ini menjadi tahapan wajib sebelum proses pencetakan ulang dilakukan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) KSB Agus menjelaskan, rencana pencetakan ulang buku Mulok mencuat setelah dibahas Bupati dalam Forum Yasinan beberapa waktu lalu. Bupati disebut meminta agar nilai budaya mulai diperkenalkan kepada siswa sejak bangku sekolah dasar.
“Kata bupati kemarin memerintahkan Dikbud, Brida dan Arpus untuk mengurus prosesnya, karena mencetak buku ini tidak sembarangan, ada tahapan-tahapannya,” kata Agus kepada wartawan media ini, Rabu (05/8).
Agus menyebut buku yang akan diperbanyak tersebut merupakan karya kolektif yang melibatkan banyak penulis, bukan hasil karya satu orang saja. Kondisi ini yang membuat statusnya belum bisa langsung ditentukan.
“Karya-karya itu milik banyak orang, bukan satu orang, jadi perlu kita pelajari dulu apakah kita hanya akan mencetak sebagai referensi atau bisa diusulkan ber-ISBN,” ujarnya.
Menurut Agus, jika buku tersebut hendak diterbitkan resmi ber-ISBN, jumlah penulis yang tercantum perlu dibatasi dan datanya dikoordinasikan lebih dulu agar sesuai ketentuan penerbitan.
“Kalau mau di-ISBN-kan, karya-karya itu perlu dikeluarkan, cukup dua atau tiga orang penulis yang harus dikumpulkan datanya,” jelasnya.
Agus menambahkan hingga saat ini belum ada tindak lanjut resmi dari OPD terkait proses pengajuan tersebut. Dikbud KSB pun memposisikan diri hanya sebagai penerima manfaat begitu buku selesai dicetak, sementara pengurusan teknis sepenuhnya berada di tangan BRIDA.
“Kami Dikbud hanya sebagai penerima manfaat setelah buku itu selesai. Karena kami yang akan membagikan ke Sekolah” tuturnya.
Agus menjelaskan saat ini setiap sekolah di KSB sebenarnya sudah memiliki kurikulum muatan lokal masing-masing yang berjalan secara mandiri. Buku Mulok KSB, kata Agus, direncanakan hanya menjadi bagian kecil dari materi pengenalan budaya, bukan pengganti kurikulum mulok yang sudah ada.
“Muloknya masing-masing sekolah sudah ada kurikulumnya. Jadi Mulok ini mungkin hanya masuk sebagai bagian perkenalan dan penanaman nilai tambah saja,” katanya. (M-04)
