Ponpes Al Ikhlas Tekankan Pendidikan Holistik di Khutbatul Arasy 2026

Taliwang, MediaKSB, – Pondok Pesantren Al Ikhlas Taliwang International Islamic Boarding School (IIBS) menekankan konsep pendidikan holistik dalam Apel Tahunan Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy 2026, Minggu (23/8). Pimpinan Pondok Dr. KH. L. Zulkifli Muhadli, BA., SH., MM. menjelaskan konsep tersebut mengintegrasikan iman dan ilmu secara seimbang untuk mencetak santri sebagai hamba Allah, khalifah, sekaligus pengemban ilmu dan peradaban.
Buya Zul, sapaan akrabnya, menyebut tiga kunci utama yang menjadi fondasi pendidikan holistik di Al Ikhlas, sebelum santri menekuni profesi apa pun di kemudian hari.
“Kita adalah hamba Allah karena untuk itu kita diciptakan. Kita juga adalah khalifah yang ditugaskan menjadi pemakmur dan penyelamat dunia, sekaligus pengemban ilmu dan peradaban,” katanya.
Rektor Universitas Cordova (Undova) itu juga menyampaikan, pendidikan holistik di Al Ikhlas memadukan iman dan ilmu secara seimbang, tanpa memisahkan Al-Qur’an dan sains, karena keduanya dinilai sama-sama ayat Allah.
“Peradaban Islam dahulu menguasai dunia justru karena para ulamanya adalah ilmuwan, dan para ilmuwannya adalah ulama,” tuturnya.
Buya Zul menegaskan, Khutbatul Arasy menjadi wadah utama menanamkan konsep pendidikan holistik kepada seluruh santri terutama santri baru, bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan penyampaian jati diri, sunnah, tradisi, disiplin, dan cita-cita pondok.
“Semua yang kalian dengar, semua yang kalian lihat, semua yang kalian lakukan dan rasakan di pondok ini seluruhnya dihajatkan dan ditujukan untuk pendidikan,” ujarnya.
Buya Zul mencontohkan, bel yang berbunyi, antrean di sumur dan tempat mandi, antrean di dapur dan tempat makan, kamar yang harus rapi dan bersih, hingga bahasa yang dipakai sehari-hari merupakan bagian dari proses pendidikan holistik di pondok.
“Di pondok ini tidak ada yang sia-sia, yang sia-sia hanyalah santri yang tidak mau mengambil pelajaran,” tegasnya.
Buya Zul turut mengaitkan konsep pendidikan holistik dengan momentum bulan kemerdekaan Republik Indonesia, dengan mengajak santri memaknai kemerdekaan tidak hanya secara fisik, melainkan juga secara batin.
“Para pendahulu kita telah memerdekakan tanah air, tugas kalianlah hari ini memerdekakan jiwa; merdeka dari kebodohan, merdeka dari kemalasan, merdeka dari kehinaan akhlak, dan merdeka dari ketergantungan kepada bangsa lain,” tandasnya.
Kepada santri baru, Zulkifli mengingatkan proses adaptasi tinggal jauh dari orang tua merupakan bagian dari pendidikan holistik yang wajar dilalui, termasuk rasa kecewa, lelah, dan rindu kepada orang tua pada masa-masa awal.
“Saya tahu ada di antara kalian yang menangis ketika ditinggalkan kedua orang tuamu, tidak apa-apa, itu wajar, itu manusiawi, tidak salah,” pungkasnya. (M-04)
