Keterbatasan Vaksin Jadi Hambatan Penanganan Rabies di KSB
Taliwang, MediaKSB, – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menghadapi tantangan serius dalam upaya pengendalian penyakit rabies akibat keterbatasan jumlah vaksin yang tersedia. Meski terus menggencarkan vaksinasi terhadap hewan pembawa rabies (HPR) seperti anjing dan kucing peliharaan, jumlah dosis yang dimiliki belum mampu memenuhi target minimal cakupan 70 persen populasi HPR.
Menurut Fungsional Medik Veteriner Ahli Muda pada Dinas Pertanian KSB, Isnia Nurul Azmi, hingga akhir semester pertama tahun 2025, pemerintah telah memvaksinasi 944 ekor HPR. Jumlah ini masih jauh dari target sekitar 3.400 ekor yang dibutuhkan untuk mencapai cakupan vaksinasi ideal dari total populasi HPR peliharaan yang mencapai 4.574 ekor.
“Tahun ini vaksin yang tersedia hanya 2.700 dosis, masih kurang untuk memenuhi target. Tapi jika butuh tambahan, kami cukup bersurat ke pusat atau provinsi untuk minta pasokan tambahan,” ujarnya kepada wartawan beberapa waktu lalu.
Keterbatasan vaksin menjadi tantangan karena status KSB saat ini masih masuk dalam kategori daerah tertular rabies. Dalam enam bulan terakhir, tercatat 48 kasus gigitan anjing dan enam diantaranya terkonfirmasi positif rabies.
“Meski tidak ada korban jiwa, potensi penyebaran tetap tinggi jika tidak dikendalikan secara cepat dan efektif,” katanya.
Isnia menjelaskan, fokus vaksinasi saat ini hanya menyasar HPR bertuan atau peliharaan milik warga. Sementara HPR liar seperti anjing dan kucing jalanan tidak menjadi sasaran karena proses vaksinasi terhadap hewan liar dinilai terlalu rumit.
“Kalau yang liar bisa saja divaksin, tapi memang tidak mudah. Jadi kami fokus ke yang dipelihara saja untuk menguatkan imunitas mereka,” jelasnya.
Selain vaksinasi, Distan KSB juga mengintensifkan langkah eliminasi terhadap HPR yang terlibat dalam kasus gigitan guna pengambilan sampel laboratorium dan mencegah penularan.
Di samping itu, kegiatan sosialisasi terus dilakukan, khususnya kepada anak-anak dan orang tua, melalui program Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) tentang bahaya rabies.
“Kami minta masyarakat tetap tenang jika ada kasus gigitan HPR. Selama ditangani sesuai SOP dan dilaporkan secepatnya, risiko penularan bisa ditekan,” pungkas Isnia. (M-02)

