Melala dan Mesuro Tutup Festival Muharram, Bupati Apresiasi Konsistensi Desa Goa

Jereweh, MediaKSB, – Festival Muharram 1448 Hijriah resmi ditutup di Desa Goa, Kecamatan Jereweh, Sabtu malam, 10 Muharram, (27/06). Puncak festival ini menjadi cerminan kuatnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur dari tahun ke tahun.
Acara puncak dihadiri Bupati Sumbawa Barat H. Amar Nurmansyah, Wakil Bupati Hj. Hanipah, dan Dr. Ir. H. Musyafirin. Turut hadir unsur Forkopimda, pimpinan DPRD, Sekretaris Daerah, jajaran OPD, para camat se-KSB, perwakilan PT Amman Mineral, serta para kepala desa.
Dalam sambutannya, Haji Amar, sapaan akrab Bupati mengapresiasi konsistensi masyarakat Desa Goa yang mampu mengembangkan festival ini menjadi agenda budaya tahunan. Bupati menilai penyelenggaraan festival semakin baik dengan partisipasi warga yang terus meningkat setiap tahunnya.
“Saya sangat mengapresiasi konsistensi masyarakat Desa Goa yang mampu merawat dan mengembangkan festival ini,” ujarnya
Bupati menambahkan partisipasi aktif masyarakat menjadi indikator penting keberhasilan pelestarian budaya di Desa Goa. Haji Amar menilai semangat tersebut layak menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kabupaten Sumbawa Barat.
Rangkaian kegiatan festival menghadirkan nilai-nilai yang tetap relevan hingga kini. Tabligh Akbar digelar sebagai penguat ketakwaan, sementara tradisi Mangan Lawang Karang menegaskan semangat gotong royong masyarakat setempat.
Selain itu, lomba selawatan dan Mesuro turut digelar sebagai ruang edukasi bagi warga. Tradisi Melala Minyak Jereweh yang diikuti 20 kelompok menjadi daya tarik utama dalam menjaga warisan pembuatan minyak obat tradisional.
Ada hal menarik dalam pelaksanaan festival kali ini. Atas kesepakatan bersama antara Bupati dan Musyafirin, istilah lokal untuk sisa proses pembuatan minyak resmi diubah dari “Tai Minyak” menjadi “Sari Minyak”.
Musyafirin menjelaskan perubahan istilah tersebut bertujuan memberikan kesan lebih positif, terutama dalam menyambut kunjungan wisatawan ke depannya. Istilah baru ini dinilai lebih elok dan memiliki nilai estetis dibandingkan penyebutan sebelumnya.
“Kami menyepakati perubahan istilah ini agar terdengar lebih elok dan memiliki nilai estetis,” Musyafirin.
Haji Firin, sapaan akrabnya menambahkan, istilah “Sari Minyak” akan lebih mudah diterima oleh masyarakat luas maupun wisatawan yang menyaksikan langsung proses pembuatan minyak melala. Perubahan ini diharapkan turut mendukung promosi wisata budaya di Desa Goa.
Melalui sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat, Festival Muharram di Desa Goa diharapkan dapat terus konsisten menjadi salah satu pilar pelestarian budaya tradisional. Pemkab KSB berkomitmen mendukung penuh kelangsungan festival ini pada tahun-tahun mendatang. (M-03)
