Kalau Listrik Padam 10 Menit, Apa yang Terjadi di Tambang?

Bagikan ke :
Foto: Amman Nusantara Gas (ANG) (dok. AMMAN)
Foto: Amman Nusantara Gas (ANG) (dok. AMMAN)

Bayangkan begini, dalam pabrik pengolahan mineral di Batu Hijau, truk raksasa mengangkut bijih tembaga tanpa henti, siang dan malam. Mesin penggiling berderu memecah bebatuan jadi partikel halus. Lalu, tiba-tiba, listrik padam. Bukan berjam-jam, cukup sepuluh menit saja. Conveyor berhenti mendadak. Mesin giling melambat, lalu diam. Alarm menyala di ruang kontrol. Seluruh proses yang tadinya berjalan mulus, kini macet dan berhenti total.

Skenario itu bukan sekadar andai-andai. Skenario itulah yang mendasari keputusan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) membangun pembangkit listrik berkapasitas 450 megawatt di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Nusa Tenggara Barat (NTB). Sistem pembangkit listrik yang jauh lebih besar dari kebutuhan penerangan sebuah kecamatan bahkan satu daerah.

Banyak orang membayangkan industri tambang hanya seputar urusan menggali batu, alat berat raksasa, dan lubang besar di tanah. Sangat jarang orang melihat kebutuhan energi yang menentukan hidup-matinya sebuah tambang modern. Proses paling boros listrik bukan penggalian, melainkan pengolahan. Dari crusher, penggilingan, flotasi, sampai furnace dan electrorefining, semuanya makan listrik dalam jumlah besar dan butuh pasokan yang stabil, dan nyaris tanpa jeda.

Dalam kajian International Energy Agency (IEA) yang bertajuk “Energy-related CO2 Emissions Intensity for an Indicative Refined Copper Production” menyebut bahwa besar-kecilnya emisi produksi tembaga tidak hanya ditentukan oleh alat yang digunakan. Semakin bersih energi atau listrik yang digunakan, semakin rendah jejak karbon yang dihasilkan.

Untuk memastikan pasokan listrik tidak pernah putus serta kecilnya emisi yang dihasilkan, AMMAN membangun Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) 450 megawatt di kawasan Batu Hijau. Dengan lonjakan kapasitas yang hampir tiga kali lipat, pembangkit ini akan menggantikan PLTU batu bara berkapasitas 120 megawatt yang selama ini dipakai. PLTGU direncanakan memasok kebutuhan listrik smelter tembaga, fasilitas pemurnian logam mulia (PMR), serta ekspansi tambang dan pabrik pengolahan.

Cara kerjanya sederhana, tapi sangat cerdik. Gas alam dibakar untuk memutar turbin gas dan menghasilkan listrik. Panas buang dari proses yang biasanya akan terbuang percuma, dipakai lagi untuk memanaskan air jadi uap. Uap inilah yang kemudian memutar turbin kedua untuk menghasilkan listrik tambahan. Karena panasnya dipakai dua kali, efisiensinya jauh lebih tinggi dibanding pembangkit konvensional.

Sebuah kajian yang dimuat di jurnal SpringerPlus tahun 2014 bertajuk “Optimization of CCGT power plant and performance analysis using MATLAB/Simulink with actual operational data” mencatat bahwa efisiensi turbin gas tunggal yang semula berkisar 28 hingga 33 persen bisa naik hingga sekitar 60 persen lewat skema combined cycle semacam ini, jauh di atas PLTU batu bara konvensional yang efisiensinya rata-rata cuma 33 sampai 40 persen.

Gas untuk PLTGU ini dipasok lewat Terminal Penyimpanan dan Regasifikasi Liquefied Natural Gas (LNG) di Teluk Benete, yang dibangun dan dikelola anak usaha AMMAN, PT Amman Nusantara Gas (ANG), bekerja sama dengan Pertamina. LNG akan diangkut menggunakan kapal tanker raksasa berukuran 290 x 46 meter, MT Lady Eva, dari terminal LNG Bontang, Kalimantan Timur, ke Site Batu Hijau. Projek inovasi ini merupakan bagian dari transisi energi AMMAN meninggalkan bahan bakar batu bara dan solar menuju gas alam cair.

Sebagai gambaran skala manfaat pembangkit sejenis, PLTGU Tambak Lorok Blok 3 milik PLN Indonesia Power di Semarang, PLTGU terbesar di Indonesia saat ini dengan kapasitas 779 megawatt, tercatat mampu mengurangi emisi hingga 671 ribu ton CO2 per tahun.

“Dengan tingkat efisiensi yang mencapai 61 persen dibandingkan dengan PLTGU lainnya, pembangkit ini mampu menghindarkan emisi sebesar 671 ribu Ton CO2 dalam setahun sehingga lebih ramah lingkungan,” kata Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, saat meresmikan PLTGU Tambak Lorok Blok 3 di Semarang, Jawa Tengah.

Upaya transisi energi AMMAN turut menjadi salah satu alasan perusahaan meraih predikat PROPER Hijau 2026 dari Kementerian Lingkungan Hidup, April lalu. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menyebut penghargaan ini sebagai bentuk kepercayaan dan kedaulatan negara yang harus kita jaga bersama, bukan sekadar penilaian teknis biasa.

“Pencapaian ini diharapkan tidak hanya menjadi sebuah penghargaan, tetapi juga menjadi momentum untuk semakin meningkatkan kualitas ketaatan terhadap lingkungan hidup secara berkelanjutan. Penting untuk diingat bahwa instrumen PROPER ini bukan sekadar penilaian teknis, melainkan sebuah bentuk kepercayaan dan kedaulatan negara yang harus kita jaga bersama demi mendorong kinerja industri yang lebih hijau dan bertanggung jawab,” ujarnya pada Selasa 7 April 2026.

Predikat itu bukan cuma soal PLTGU. Di lapangan, AMMAN juga menggali berbagai inovasi kecil dari operasional yang sifatnya rutin sehari-hari, hal-hal yang jarang terekspos, tapi ikut menopang penilaian ketaatan lingkungan tadi. Salah satunya penggantian liner SAG Mill untuk menurunkan intensitas energi pada proses pengolahan bijih, yang diklaim sebagai yang pertama diimplementasikan di sektor industri pertambangan. Ada pula inovasi pengelolaan limbah non-B3 berupa kardus bekas berbahan selulosa, yang sebelumnya hanya dikirim ke pihak ketiga, kini diolah kembali menjadi mulsa organik untuk kegiatan reklamasi, mengikuti prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) secara sirkular.

Foto: MT Lady Eva, Kapal Tanker Raksasa  Pengangkut LNG (dok. AMMAN)
Foto: MT Lady Eva, Kapal Tanker Raksasa Pengangkut LNG (dok. AMMAN)

Namun, di balik segala keunggulan efisiensinya, PLTGU menyimpan satu titik lemah yang jarang dibicarakan. Kelemahan terletak pada ketergantungan pada pasokan gas yang stabil dan cost awal sebesar USD 667 juta.

Kajian Solikin dan tim dari PT PLN (Persero) yang terbit di Jurnal Energi dan Ketenagalistrikan tahun 2024 menemukan bahwa PLTGU Muara Tawar, pembangkit penting dalam sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali, kerap menerima pasokan gas jauh di bawah rencana, dan terpaksa mengandalkan sumber termahal karena keterbatasan opsi pemasok.

Temuan senada juga muncul dari studi Helmi Hamzah dan tim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember pada tahun 2025 soal PLTGU 315 megawatt di Sulawesi Selatan. Di sana, produksi gas dari sumur utama diproyeksikan menurun mulai 2030, sementara bahan bakar pengganti seperti solar disebut nyaris sepuluh kali lebih mahal. Studi itu menyimpulkan bahwa dalam pengambilan keputusan investasi PLTGU, jaminan keamanan pasokan gas justru lebih menentukan dibanding sekadar keuntungan finansial semata.

Artinya, seberapa pun efisien mesin PLTGU 450 megawatt milik AMMAN nanti, keandalannya akan sangat bergantung pada kelancaran pasokan LNG dari Teluk Benete dan mitra pemasok gasnya. Ini pertanyaan yang masih terbuka, dan layak terus dipantau seiring proyek ini menuju tahap operasi penuh.

Terlepas dari pertanyaan besar soal rantai pasok gas itu, AMMAN tampak memandang seluruh proyek ini bukan sebagai beban, melainkan taruhan yang disengaja. Ratusan juta dolar yang digelontorkan untuk PLTGU, terminal LNG, hingga kapal tanker sekelas MT Lady Eva, bukan sekadar belanja infrastruktur, melainkan bagian dari kalkulasi jangka panjang bahwa keberlanjutan hari ini adalah keuntungan yang baru akan terlihat bertahun-tahun ke depan.

Vice President Corporate Communications AMMAN, Kartika Octaviana, menyebut keberlanjutan sebagai investasi strategis jangka panjang bagi perusahaan, dengan komitmen yang tidak berhenti pada sekadar pemenuhan kepatuhan.

“Kami meyakini bahwa keberlanjutan merupakan investasi strategis jangka panjang. Oleh karena itu, komitmen kami tidak berhenti pada pemenuhan kepatuhan, tetapi terus mendorong inovasi untuk menciptakan dampak positif yang terukur bagi lingkungan dan masyarakat di wilayah operasional kami,” ucapnya.

Selain PLTGU, AMMAN pun sudah mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 26,8 megawatt peak sejak 2022 di Kecamatan Sekongkang, yang diklaim sebagai PLTS ground-mounted terbesar di Indonesia untuk sektor pertambangan.

Komitmen AMMAN juga tak terhenti pada ranah inovasi teknologi, investasi dan kepatuhan terhadap regulasi yang ada. AMMAN secara konsisten memberikan manfaat energi ke warga area tambang. Dedi Iswandi, salah satu warga desa Tongo, Kecamatan Sekongkang mengaku bahwa AMMAN selama ini telah memberikan manfaat energi kepada seluruh warga di desa Tongo.

“Kami di Tongo mendapat listrik dan air gratis dari AMMAN. Semua warga Tongo tidak ada yang membayar listrik untuk kebutuhan rumah. Tentu ini sangat membantu kehidupan sehari-hari warga,” bebernya saat dihubungi, Senin 10 Agustus 2026.

Kembali ke skenario di awal tadi, sepuluh menit tanpa listrik yang bisa melumpuhkan seluruh rantai produksi. Bagi AMMAN, PLTGU 450 megawatt bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan inovasi, investasi dan taruhan besar bahwa listrik di Batu Hijau tidak boleh padam, apalagi dalam skala operasi sebesar ini. Pertanyaannya sekarang bukan lagi soal mesinnya, tapi soal apa yang mengalir untuk menghidupkannya dan seberapa jauh AMMAN bisa mengendalikan itu. (M-03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *