Ojek di Pinggir Jalan Maluk, Terima Kasih Kecil dan Rindu yang Disimpan

Bagikan ke :
Foto: Ojek Maluk, Lalu Abadi Putra (dok. Media KSB)
Foto: Ojek Maluk, Lalu Abadi Putra (dok. Media KSB)

Siang itu, di depan mesin ATM BRI Maluk, seorang lelaki duduk sendirian di atas motornya. Terik menempel di kulit, debu jalan bercampur asap knalpot truk dan kendaraan pabrik yang lalu lalang tanpa jeda. Lelaki itu menggenggam ponselnya dengan mata yang tidak benar-benar menatap layar. Ada sesuatu yang membuatnya diam cukup lama, jauh lebih lama dari biasanya seorang ojek menunggu penumpang.

Namanya Lalu Abadi Putra, enam tahun lalu, ia bukan siapa-siapa di Maluk. Di kampungnya, Lombok Timur, Pak Abadi adalah Kepala Dusun, jabatan yang dipegangnya tiga periode berturut-turut sejak 1999 hingga 2018. Tapi jabatan tidak selalu berbanding lurus dengan penghasilan. Tahun 2020, dengan satu anak baru masuk SMA dan satu lagi masih SMP, adik pak Abadi menawarkan sesuatu yang terdengar sederhana tapi mengejutkan.

“Saya dapat cerita dulu dari adik saya. Katanya, dari pada kakak jadi Kadus di kampung, mending ikut saya cari penghasilan lebih di Maluk,” kenang Abadi.

Pak Abadi tak butuh waktu lama untuk memutuskan. Meninggalkan jabatan yang dihormati orang sekampung, pak Abadi memilih menjadi ojek di tanah yang belum pernah ia injak sebelumnya.

“Memang statusnya ojek. Saya langsung ikut, dari informasi adik ini Alhamdulillah ada perubahan,” akunya.

Truk-truk yang lalu lalang di hadapannya sepanjang hari itu bukan sekadar kendaraan pabrik biasa. Itu adalah detak dari aktivitas pertambangan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) yang mendatangkan ribuan pekerja, dan di celah arus itulah Abadi, bersama ratusan ojek lain, menemukan ruang hidup yang baru. Bukan sebagai karyawan tambang. Hanya sebagai bagian kecil dari roda ekonomi yang ikut berputar karena keberadaannya.

Untuk resmi menjadi anggota dari roda itu, pak Abadi membayar Rp1,5 juta ke perkumpulan ojek setempat. Motor bebek pertamanya kerap dikeluhkan penumpang karena ujung baju yang sering tersangkut di rantai, hingga ia nekat menjual satu-satunya motor bebek miliknya.

Pak Abadi dengan berani mengambil kredit motor baru jenis matic dengan uang hasil jual motor. Pak Abadi berkewajiban membayar setoran Rp1,5 juta setiap bulan, di tengah kebutuhan dapur dan biaya sekolah anak yang tetap harus ia kirim.

“Alhamdulillah pak, tergantung nawaitu dan ikhtiarnya dari rumah masing-masing, kalau niatnya lain, jangan pernah berharap pak,” kata pak Abadi dengan penuh percaya diri.

Zaman ikut berubah di sekitarnya. Anggota ojek resmi yang terdaftar di Maluk kini bertambah sekitar 280 orang, naik dari 30 orang dari saat pertama ia mendaftar. Tantangan yang pak Abadi hadapi tidak hanya soal jumlah anggota ojek, tetapi juga semakin banyak pekerja pabrik yang kini punya kendaraan sendiri.

Penghasilan yang dulu bisa mencapai Rp250 ribu hingga Rp300 ribu sehari, kini sering berada di bawah itu. Untuk tetap bertahan, subuh menjadi jam kerjanya yang pertama, selepas shalat hingga pukul tujuh atau delapan pagi, pak Abadi mengantar pekerja pabrik yang bergegas menuju titik jemput kendaraan perusahaan.

Siang pak Abadi berpindah ke pasar, mengantar penumpang dengan ongkos lima ribu, tujuh ribu, kadang juga sepuluh ribu. Sore hari, dari pukul lima hingga isya, adalah waktu kerja terakhir sebelum benar-benar berhenti untuk istirahat.

Hasilnya tidak datang instan, tapi benar-benar dirasakan. Hari terbaik yang paling ia kenang adalah ketika penghasilannya menyentuh angka Rp800 ribu dalam sehari. Waktu itu pak Abadi sampai menarik penumpang ke kota Sumbawa. Matanya berbinar setiap kali menceritakan hari itu, seperti mengenang masa jaya yang tidak bisa datang dua kali.

Dari penghasilan sebagai ojek itu pula, pak Abadi berhasil menyekolahkan anaknya hingga jenjang perguruan tinggi. Waktu itu, sebelum menjadi ojek di Maluk, anak pertamanya nekat mendaftar di dua kampus berbeda, Universitas Mataram (Unram) dan IKIP Mataram tanpa sepengetahuan ayahnya.

“Mamik mamik, aku lulus di dua-duanya!” ujar anaknya waktu itu. Panggilan itu membuat Pak Abadi kaget bercampur bangga, sekaligus cemas memikirkan biaya yang harus ia tanggung sendirian. 

“Makanya saya ke sini untuk kuliahkan anak saya bang, Alhamdulillah sekarang sudah mau wisuda,” katanya sambil menceritakan kalau anak keduanya kini duduk di kelas XII SMK Pringgabaya. Setahun lagi, giliran dia yang akan menyusul kuliah.

Tiga motor kini berjejer di halaman rumahnya di Lombok. Bukti paling nyata dari jarak yang telah pak Abadi tempuh sejak menjual satu-satunya motor bebek enam tahun silam, jika diukur dengan angka, terasa jauh lebih baik dibanding penghasilannya dulu sebagai Kepala Dusun.

Tapi angka-angka itu tidak pernah menceritakan semuanya. Kembali ke siang itu, di depan ATM BRI Maluk, saat pak Abadi duduk diam cukup lama menatap ponsel yang tidak benar-benar ia lihat, barulah terungkap apa yang sesungguhnya mengisi kepalanya.

Pak Abadi berhenti sejenak. Menghela napas panjang. Matanya menerawang ke jalan raya di depannya, seolah mencari sesuatu yang tidak akan pernah ditemukan di sana.

“Tapi ya memang yang berat itu jauh dari istri, keluarga. Kadang-kadang kita menangis sendirian, ingat momen ketika makan bersama anak istri, itu tempat beratnya,” katanya, suaranya mulai bergetar.

“Kita gak pernah pisah, dulu selalu duduk bersama, makan selalu samaan, tidur juga,” lanjutnya. Pak Abadi diam sesaat. “Dulu, aidah sedih bang. Tapi sekarang sudah terbiasa,” air matanya menetes tepat setelah kalimat itu selesai diucapkan.

Foto: Ojek Maluk, Lalu Abadi Putra (dok. Media KSB)
Foto: Ojek Maluk, Lalu Abadi Putra (dok. Media KSB)

Enam tahun menahan rindu semacam itu, dan yang keluar hanya kalimat sesingkat itu. Tidak lama, tawanya kembali pecah, seolah ingin menutup kembali pintu yang baru saja terbuka sedikit. Pak Abadi membandingkan dirinya dengan keluarga yang saat ini bekerja sebagai karyawan perusahaan.

“Sementara kalau kita jadi karyawan, malah lebih panas. Saya kalau ditawari PT juga gak mau, masih enak kerja begini. Berangkat kapan saja, pulang kapan saja. Kalau ada keluarga meninggal atau ada acara, kita bisa langsung gas. Kalau di PT kan terikat dan ada jamnya,” katanya sambil tertawa.

Tawa itu belum reda ketika pikirannya melompat ke hal yang lebih besar dari sekadar alasannya sendiri bertahan sebagai ojek. Delapan dari sepuluh ojek di Maluk, menurut Abadi, adalah pendatang seperti dirinya, bukan penduduk asli Maluk. Fakta itu yang kemudian mengubah nada bicaranya, dari cerita pribadi menjadi semacam keresahan yang lebih luas.

“Saya heran dengan orang kita di sini. Banyak pemuda yang nganggur, padahal peluang usaha banyak. Kalau tidak kerja di perusahaan, ya minta saja ke orang tua untuk belikan motor, jadi ojek. Kalau tidak, jualan apa kek gitu, jangan pikir besar-kecil dulu, ikuti prosesnya. Insya Allah rezeki akan ikut,” pesannya.

Nasihat semacam itu tidak keluar begitu saja dari sembarang orang. Abadi pernah memimpin, pernah didengar sekampung, dan kebiasaan itu rupanya belum sepenuhnya hilang meski sudah enam tahun berpindah profesi.

Di kampung halamannya, gelar Kepala Dusun yang sudah lama Abadi lepas ternyata belum benar-benar hilang darinya. Warga masih memanggilnya “Pak Kadus” setiap kali ia pulang, warga juga kerap kali memintanya untuk berbicara di depan umum.

“Saya gak tahu ya, mungkin karena saya memang dekat dengan warga. Tapi saya sudah kerja di sini, dan saya betah di Maluk,” kata Abadi meski bukan seorang karyawan perusahaan.

Kata “betah” itu bukan basa-basi kosong. Abadi lantas membandingkan lagi, kali ini bukan sekadar soal penghasilan, tapi soal ada-tidaknya harapan itu sendiri.

“Jujur bang, kalau saya secara pribadi, kalau saya tinggalkan Maluk ini sudah tidak ada harapan lagi. Luar biasa Maluk ini dibanding daerah lain, termasuk daerah saya. Di sana sulit mau usaha, dagang, apalagi ojek. Di sini luar biasa. Besar manfaat tambang ini, meskipun kita bukan karyawan,” tuturnya sambil menawarkan saya minum..

Percakapan sore itu perlahan mereda, seiring jam kerjanya yang juga mendekati ujung. Di antara lalu lalang pekerja pabrik yang tengah beristirahat, Abadi kembali duduk di bangku plastiknya. Menyesap kopi secangkir kopi sambil menawarkan segelas untuk teman sesama ojek yang lewat.

Suara tawa Abadi sama seperti yang pertama kali ia perlihatkan siang itu. Hanya saja kini semua tahu, di balik tawanya ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia ceritakan kepada siapa pun, kecuali pada orang asing yang kebetulan singgah dan mau duduk cukup lama untuk mendengarkan.

Barangkali, itulah bentuk paling jujur dari terima kasih seorang ojek kepada perusahaan yang memberinya ruang untuk pulang dan membawa cerita yang berbeda. Bukan tanpa kehilangan, tapi tetap Abadi jalani dengan kepala tegak dan penuh rasa syukur. (M-03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *