Perkuat Pengawasan Rabies, Distan KSB Soroti Risiko pada Anak

Taliwang, MediaKSB, – Selain memperkuat sistem pengawasan penyakit rabies melalui pelaporan berkala dari desa-desa, Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) turut menyoroti risiko gigitan yang mengintai kelompok yang paling rentan yakni anak-anak.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Distan KSB, drh. Hikmatul Azmy, menjelaskan, pemantauan rutin kasus rabies di KSB dilakukan melalui laporan bulanan dari setiap desa.
“Kita punya laporan bulanan dari tim khusus, tim yang sudah kita bentuk akan merekap dan melaporkan setiap kasus gigitan. Jadi bisa terpantau perkembangannya,” jelasnya, (09/9).
Selain laporan bulanan, Hikmatul Azmy menyebut pengambilan sampel dari hewan turut menjadi bagian dari upaya pemantauan tersebut. “Kita juga ambil sampel dari hewan yang sudah divaksin. Nanti akan kelihatan dari hasil lab, seberapa efektif kegiatan vaksin di KSB,” ungkapnya.
Menurutnya Azmy, gabungan data dari laporan desa dan hasil sampel di lapangan menjadi dasar bagi Distan KSB untuk memetakan wilayah mana saja yang perlu mendapat perhatian lebih.
Dari hasil pemantauan tersebut, Hikmatul Azmy mengungkapkan bahwa anak-anak menjadi kelompok yang paling banyak berisiko menjadi korban gigitan hewan penular rabies.
Azmy menyebut, kerentanan ini terjadi karena anak-anak cenderung polos dan senang mengajak bermain anjing tanpa menyadari potensi bahaya di baliknya. “Bahaya, sekarang banyak kejadian menimpa anak-anak. Namanya anak ya polos, senang ajak main anjing, dan belum paham bahwa ada risiko rabies yang harus diwaspadai,” bebernya.
Azmy menerangkan, ketidaktahuan anak-anak soal bahaya rabies membuat mereka kerap tidak menyadari perbedaan antara anjing yang sehat dengan anjing yang berpotensi tertular rabies. “Kalo ada indikasi rabies biasanya langsung menyerang, ini yang bahaya kalau anak-anak tidak tau,” sambungnya.
Hal ini, kata Azmy, yang menjadi salah satu tantangan tersendiri dalam upaya pencegahan penyebaran penyakit ini di tengah masyarakat.
Penguatan sistem pemantauan yang dilakukan Distan KSB dapat berjalan beriringan dengan edukasi kepada masyarakat, khususnya orang tua dan pihak sekolah, agar lebih mengawasi interaksi anak-anak dengan hewan peliharaan maupun hewan liar di lingkungan sekitar.
“Pencegahan ini harus dilakukan bersama-sama, orang tua juga kami himbau untuk menjaga anak-anaknya. Edukasi masif kepada masyarakat juga harus terus dilakukan,” pesannya.
Kombinasi antara pemantauan berbasis data dan kewaspadaan masyarakat menjadi kunci untuk menekan risiko penularan rabies, khususnya kepada kelompok rentan seperti anak-anak. (M-02)
