Distan KSB Pastikan Efektivitas Vaksinasi Rabies via Surveilans

Taliwang, MediaKSB, – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) memastikan efektivitas vaksinasi rabies melalui kegiatan surveilans dan monitoring Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) bersama Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar.
Kegiatan yang dimulai sejak Senin, (07/9) menyasar kecamatan Poto Tano sebagai contoh tempat pengambilan sampel yang telah melaksanakan vaksinasi 3 bulan sebelumnya.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Distan KSB, drh. Hikmatul Azmy, menjelaskan, kegiatan surveilans menjadi instrumen penting untuk mengukur keberhasilan program vaksinasi yang telah dijalankan pemerintah sebelumnya.
“Kalau kita ingin suatu daerah bebas dari penyakit hewan menular, prosesnya itu memang lama, tidak bisa langsung hilang. Di situlah surveilans dibutuhkan, salah satunya untuk melihat bagaimana keberhasilan vaksinasi yang sudah kita laksankaan,” jelasnya kepada Media KSB, Selasa (08/9).
Dalam kegiatan ini, sampel yang diambil berupa darah dari hewan yang sebelumnya telah divaksinasi untuk kemudian diuji kadar antibodinya di laboratorium. Berdasarkan lampiran jadwal BBVet Denpasar, surveilans rabies di Sumbawa Barat menyasar 35 serum anjing yang akan diuji dengan metode ELISA Rabies.
Hikmatul Azmy menegaskan, pengambilan sampel tidak bisa dilakukan sembarang waktu karena ada jeda minimal yang harus dipenuhi pascavaksinasi. “Tidak boleh kurang dari itu. Kalau kurang, hasilnya bisa terganggu dan terlihat seperti vaksinasinya tidak berhasil, padahal waktunya saja yang belum tepat,” ungkapnya.
Azmy menambahkan, pelaksanaan pengambilan sampel di lapangan akan dilakukan langsung oleh tim dari BBVet Denpasar bersama dengan tim Medik dan Paramedik dari Distan KSB. “Ada tim dari BBVet Denpasar yang datang, dua orang. Ada juga tenaga medik dan paramedik veteriner yang bertugas mengambil sampel di lapangan untuk kemudian dibawa ke laboratorium,” terangnya.
Menurut Azmy, Distan KSB saat ini belum memiliki fasilitas sendiri untuk menghitung titer antibodi hewan, sehingga hasil pengujian sepenuhnya bergantung pada laboratorium BBVet Denpasar.
“Hasilnya nanti akan akan dilaporkan kembali ke kami (Distan KSB) sebagai bahan evaluasi program vaksinasi di daerah,” sambungnya.
Azmi juga mengingatkan, vaksinasi rabies bukan proses sekali jalan, melainkan memerlukan pengulangan secara berkala. Peroses vaksinasi akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan ketentuan.
Selain di Sumbawa Barat, surveilans rabies dengan skema serupa turut dilaksanakan BBVet Denpasar di Kabupaten Sumbawa pada periode yang sama. Kegiatan ini merupakan bagian dari program surveilans dan monitoring PHMS yang dilaksanakan BBVet Denpasar secara rutin di wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur sepanjang September 2026. (M-02)
