Fase 8 Batu Hijau: Inovasi Teknologi AMMAN untuk Masa Depan Tambang
Ketika lapisan terakhir Fase 7 Batu Hijau mulai menipis, kegelisahan pun muncul, akankah denyut tambang di Sumbawa Barat segera padam? Pada titik genting itulah AMMAN menuliskan sebuah babak baru “Fase 8”, sebuah ikhtiar menyiapkan warisan tambang untuk masa depan.
Fase 7 yang telah berjalan hingga tahun 2024 menandai akhir dari sebuah periode proses penambangan. Tanpa strategi baru, aktivitas pertambangan di Batu Hijau diprediksi akan berhenti secara total.
Fenomena ini mengakibatkan ribuan pekerja lokal terancam kehilangan mata pencaharian yang selama ini menghidupi keluarga mereka. Selain itu kontribusi fiskal untuk daerah dan bahkan negara terancam ikut menurun. Melihat fenomena tersebut, AMMAN perlu memutar otak untuk menemukan cara bagaimana mengolah cadangan mineral yang masih ada dengan lebih optimal dan efisien.
Ibarat sebuah buku yang habis pada Bab 7, AMMAN mencoba menulis kembali alur cerita pertambangan dari inovasi yang ditemukan dalam Bab berikutnya, yakni Fase 8. Babak baru dari masa depan pertambangan dengan cadangan sekitar 460 juta ton bijih mineral di dalamnya.
“AMMAN terus melakukan pengeboran secara intensif pada tahun 2020 untuk menemukan cadangan baru yang dapat memperpanjang usia tambang Batu Hijau. Ditambah dengan upaya kami meningkatkan efisiensi dan produktivitas operasional, serta peningkatan harga komoditas, kami berhasil menambah 5 tahun usia tambang Batu Hijau,” kata Vice President Corporate Communication Amman Mineral Internasional, Kartika Octaviana.
Fase 8 memasang target agar produksi dapat terus berlanjut hingga tahun 2030. Strategi ini memastikan Sumbawa Barat tetap berada di peta global pertambangan, sekaligus menopang ekonomi daerah yang masih sangat bergantung pada sektor pertambangan.
Inovasi Hulu: Eksplorasi & Digitalisasi
Pada Fase 8, metode eksplorasi konvensional diperbarui dengan pemodelan geologi 3D. Data cadangan dipetakan lebih mendetail dengan teknologi terbaru, sehingga penggalian dapat dilakukan dengan lebih presisi.
Dalam prosesnya, Fase 8 pada masa awal transisi dimulai dari sisi terluar dan teratas dari pit tambang Batu Hijau yang memiliki kadar logam lebih rendah. Penambangan akan terus berlanjut menuju bagian tengah dan dalam dari pit Batu Hijau yang mengandung bijih mineral dengan kadar lebih tinggi.
“Dengan demikian, peningkatan produksi akan terjadi dalam beberapa periode kedepan,” jelas Kartika Octaviana.
Untuk menjadi pemimpin berbasis teknologi di sektor pertambangan, AMMAN terus mendorong transformasi digital melalui pengembangan tiga Minimum Viable Product (MVP), yakni memberikan hasil cepat, validasi solusi digital, dan membangun momentum untuk adopsi skala lebih luas.
Ketiganya difokuskan pada area strategis yang berdampak langsung pada peningkatan pendapatan dan efisiensi biaya operasional.
Salah satu terobosan menarik yang telah dilakukan AMMAN adalah pembangunan fasilitas rebuild Haul Truck di Batu Hijau. Truk raksasa Caterpillar 793 C yang memerlulan waktu 6 – 9 bulan untuk peremajaan, kini dapat direkondisi langsung di tempat. Waktu perbaikan juga mampu dipangkas hingga 23 hari dengan biaya hanya 35% dari proses rebuild sebelumnya.
Inovasi teknologi juga dilakukan pada proses penambangan hingga peleburan. Di Batu Hijau, ledakan batuan tidak lagi sekadar dentuman keras yang memecah bumi. Dengan teknologi 4D Blasting, setiap ledakan dihitung presisi: tekanan, waktu, dan arah energi dikendalikan.
Hasilnya bukan hanya batu yang pecah, melainkan fragmentasi yang tepat sasaran. Batuan lebih mudah diproses, energi lebih konsisten, dan efisiensi meningkat. Selain itu terdapat teknologi survei laser scanner, teknologi Froth Crowder, dan teknologi Double Flash Smelting yang akan kita bahas pada laporan selanjutnya.

Tantangan yang Masih Ada
Meski penuh dengan inovasi teknologi, Fase 8 tidak terbebas dari tantangan. Ambil saja contoh tantangan masa transisi yang mau tidak mau harus dihadapi. AMMAN mengakui bahwa proses optimalisasi smelter tembaga memerlukan waktu lebih. Selain itu, regulasi larangan ekspor konsentrat dari pemerintah pusat cukup membebani AMMAN pada tahun 2025
Tantangan tersebut berdampak pada hasil kinerja H1 2025 AMMAN. Pada Q1 2025, perusahaan hanya mampu memproduksi 635 ton katoda tembaga dan mengalami rugi bersih sebesar US$138 juta.
Di tengah tekanan transisi dan perubahan regulasi yang ada, pada Fase 8 perusahaan terus berbenah serta berkomitmen untuk meningkatkan produksi kotoda tembaga melalui peningkatan kinerja smelter pasca fase awal komisioning.
Hasilnya lonjakan signifikan terjadi pada Q2 2025 dengan produksi yang meningkat pesat hingga 19.170 ton katoda tembaga. Rugi bersih juga terjun bebas menjadi US$8 juta pada Q2 2025.
Di samping itu, AMMAN juga mencatat momentum penting pada pertengahan Juli 2025 dengan keberhasilan produksi emas murni pertamanya melalui fasilitas Precious Metals Refinery (PMR) yang dimiliki.
Strategi diplomasi juga terus dilakukan AMMAN dengan pemerintah pusat untuk memberikan fleksibilitas ekspor konsentrat untuk menjaga keberlanjutan operasi serta mendukung kontribusi fiskal bagi pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.
Dorongan fleksibilitas ekspor juga datang dari sisi kelembagaan daerah. DPRD KSB turut mendukung kebijakan relaksasi ekspor konsentrat kepada AMMAN. Kebijakan ini dinilai sangat penting dalam rangka menjaga keberlangsungan investasi dan stabilitas ekonomi daerah.
“Harus diakui, AMMAN adalah penopang utama ekonomi daerah. Mulai dari serapan tenaga kerja, kontribusi bagi PAD, hingga perputaran ekonomi masyarakat,” tegas Wakil Ketua DPRD KSB, Badaruddin Duri.
Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua Komisi II DPRD KSB, Fauzan Ahmad, BSA, S.E., M.M., yang menilai pencabutan izin ekspor konsentrat bagi AMMAN akan berdampak pada stabilitas sosial dan ekonomi daerah.
“AMMAN ini bukan perusahaan biasa, tapi tulang punggung ekonomi Sumbawa Barat. Kalau izin ekspor tersendat, kerugian bukan hanya bagi perusahaan, tapi juga bagi masyarakat dan daerah, bahkan nasional” ujarnya.
Sebagai langkah strategis untuk menjawab tantangan yang ada, AMMAN terus memperkuat pengendalian biaya dan langkah efisien untuk menjaga ketahanan pada fase ramp-up.
“Kami yakin bahwa kinerja keuangan akan terus membaik. Kami tetap berkomitmen pada strategi jengka panjang dan fokus menciptakan nilai yang berkelanjutan melalui keunggulan operasional dan eksekusi yang disiplin,” ujar Presiden Direktur AMMAN, Arief Sidarto dengan optimis.

Perspektif Nasional dan Global
Fase 8 adalah bagian dari puzzle besar hilirisasi mineral di Indonesia. Pemerintah menargetkan nilai tambah dari industri tembaga dapat menopang perekonomian jangka panjang, seiring dengan transisi energi global yang mendorong kebutuhan tembaga untuk kendaraan listrik dan infrastruktur hijau.
Fortune Indonesia menempatkan AMMAN pada peringkat ke-25 dari 100 Perusahaan Terbesar di Indonesia pada tahun 2025. Prestasi ini meningkat dari tahun sebelumnya yang menepatkan AMMAN pada posisi ke-39. Capaian ini menegaskan posisi AMMAN sebagai perusahaan yang terus tumbuh dari tahun ke tahun.
AMMAN juga kembali masuk dalam daftar Fortune Southeast Asia 500 2025. Ini merupakan tahun kedua berturut-turut AMMAN masuk dalam daftar bergengsi tersebut, dengan peningkatan peringkat yang signifikan dari posisi ke-172 menjadi posisi ke-131 dari 500 perusahaan terbesar di Asia Tenggara.
Tak berhenti pada penghargaan yang diraih, AMMAN dengan inovasi teknologi yang dimiliki pada Fase 8, akan menjadi salah satu aktor penting dalam perekonomian global.
Wood Mackenzie, lembaga riset dan konsultan global, memproyeksikan bahwa permintaan terhadap tembaga akan terus melonjak seiring dengan adopsi teknologi rendah karbon, mulai dari kendaraan listrik hingga infrastruktur energi terbarukan.
Setengah Jalan
Cerita dari fase 8 hanyalah awal dari sebuah perjalanan panjang. Setelah bijih tembaga diangkut keluar pit, kisah berikutnya membawa kita pada transformasi yang lebih besar: bagaimana batuan kasar itu menjelma menjadi katoda tembaga yang bernilai tinggi? Sebuah babak baru tentang smelter AMMAN yang akan mengubah wajah hilirisasi nasional. (M-03)

