Kerja Kolaborasi, Dinsos KSB Akui Menurun Angka Kemiskinan

Bagikan ke :

Taliwang, MediaKSB, – Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) melalui Dinas Sosial (Dinsos) mengakui, jika setiap tahun ada penurunan angka kemiskinan. Keberhasilan itu sendiri menjadi bentuk keseriusan pemerintah, terutama dalam kerja kolaborasi dengan semua pihak.

Alimuddin SH, MM.Inov selaku sekretaris Dinsos mengingatkan, pemerintah KSB memiliki basis data kemiskinan yang dapat dipertanggung jawabkan, bahkan dulu dideklarasikan bersama masyarakat. “Data kemiskinan di KSB tertuang dalam FM 332. Data itu sendiri terus berkurang setiap tahunnya. Hal itu yang membuktikan adanya penurunan,” ucapnya.

Sebagai pembuktian adanya penurunan kemiskinan dapat dilihat dari grafik tahunan yang terhitung sejak tahun 2018, dimana jumlah warga miskin saat itu sebanyak 1.586 Kepala Keluarga (KK). Selanjutnya pada tahun 2019 jumlah warga miskin sebanyak 1.486 KK. Tahun 2020 sebanyak 1.463 KK dan tahun 2021 angka kemiskinan terus menurun mencapai 1.459 KK. Tahun 2022 angka kemiskinan turun menjadi 1.457 KK dan tahun 2023 turun menjadi 1.293 KK. Sementara tahun 2024 ini terisa 1.256 KK.

Disampaikan Ali sapaan akrabnya, berbagai program dilaksanakan pemerintah KSB dalam upaya menurunkan angka kemiskinan, meskipun penurunan secara berkala atau bertahap. “Ditahun ini bisa dipastikan ada penurunan lagi, karena akan ada 140 KK yang masuk graduasi atau dikeluarkan dari data kemiskinan,” urainya.

Ali membeberkan beberapa alasan pemerintah harus mencoret dalam data FM332, diantaranya, sedang mendapat mendapat bantuan lain dalam rangka peningkatan ekonomi atau upaya menurunkan kemiskinan ekstrem, sudah berdaya atau telah memiliki penghasilan karena telah mendapatkan pekerjaan, meninggal dunia serta migrasi tempat tinggal. 

Lebih jauh lagi Alimuddin menambahkan, untuk menurunkan angka kemiskinan lagi, pihaknya berencana melakukan pemberdayaan terukur dan terarah agar masyarakat miskin bisa keluar dari zona ekonomi sulit.

“Nanti formulasinya, kita data dulu potensi atau minat yang dimiliki tiap keluarga. Misalnya melalui Usaha Ekonomi Produktif (UEP) individu atau UEP Kelompok Usaha Bersama (KUBe). Begitu gambaran sementara,” tandasnya. (M-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *