Tim Ahli UNRAM Kaji Kesiapan KSB Kembangkan Kakao

TALIWANG, MEDIAKSB – Tim ahli Fakultas Pertanian Universitas Mataram (UNRAM) mengkaji kesiapan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mengembangkan kakao di kawasan potensial seluas lebih dari 5.000 hektare. Kajian itu menilai kesesuaian lahan sekaligus kesiapan masyarakat beralih ke komoditas baru.
Pengkajian tersebut merupakan bagian dari penyusunan Kajian Agribisnis Padi dan Kakao hasil kerja sama Dinas Pertanian (Distan) KSB dengan Fakultas Pertanian UNRAM. Kegiatan seminar awal penyusunan kajian berlangsung pada Jumat (30/10).
Dosen Fakultas Pertanian UNRAM sekaligus tim ahli kajian, Aluh Nikmatullah, menyebut kesiapan masyarakat menjadi aspek terpenting dalam kajian. Menurut Aluh, kakao belum pernah dibudidayakan masyarakat KSB sebelumnya.
“Kalau ingin dikembangkan 5.000 hektare, bagaimana kesiapan lahannya, kesesuaian lahannya, dan terutama sekali kesiapan masyarakat untuk beralih dari komoditas yang sekarang dibudidayakan,” ujar Aluh.
Aluh menuturkan kawasan potensial itu terdiri atas lahan kebun masyarakat dan Sebagian besar merupakan kawasan hutan kemasyarakatan (HKM). “Tahap awal seluas 105 hektare dimulai pada 2026 dan ditargetkan mencapai 5.000-an hektare pada 2032,” akunya.
Tim ahli juga akan menilai pola pengembangan yang paling tepat, yakni penggantian komoditas atau integrasi dengan tanaman yang sudah ada. Penilaian itu mempertimbangkan nilai ekonomi komoditas yang kini dibudidayakan masyarakat.
Selain kesiapan petani, Aluh menyoroti kesiapan pasar. Aluh menjelaskan kakao berbeda dengan kopi, yang pascapanen dan penjualannya bisa ditangani sendiri oleh petani.
“Kakao ini tergantung sekali dari adanya pengusaha. Itu yang akan direkomendasikan, kalau 5.000 hektare kapasitasnya berapa dan ke mana akan dijual,” jelasnya.
Kajian juga memuat peluang hilirisasi kakao di KSB dalam beberapa tahun ke depan. Tim ahli turut memetakan kebutuhan teknologi dan pelatihan bagi petani yang belum berpengalaman membudidayakan kakao.
Aluh juga mengatakan, pemilihan kakao dan padi merupakan usulan dari pemerintah daerah setelah melihat potensi kedua komoditas tersebut. Keduanya masuk dalam program unggulan daerah untuk mendongkrak perekonomian masyarakat dan pendapatan asli daerah (PAD).
“Bukan UNRAM yang menentukan komoditas ini. Itu memang program dari pemerintah daerah,” tegasnya.
Kesiapan regulasi juga mulai disiapkan. Kepala Bidang Produksi Pertanian pada Distan KSB, Syamsul Rijal mengungkapkan, Distan KSB telah berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan terkait penanaman di kawasan HKM.
“Kami sudah koordinasi dengan Kementerian Kehutanan, ada 10 komoditas yang boleh ditanam. Ada kakao, kopi, pala, kelapa, rempah-rempah, dan lain sebagainya,” ungkapnya.
Menurut Syamsul, seluruh komoditas tersebut akan dimasukkan dalam kajian bersama tim ahli UNRAM. “Kakao dan padi merupakan dua komoditas yang menjadi pusat kajian untuk saat ini,” tutupnya. (M-01)
