Hasil Lab Normal, Kematian Masal Ikan di Sungai Banjar Masih Menjadi Misteri
Taliwang, MediaKSB, – Meski hasil uji laboratorium menyatakan kualitas air Sungai Banjar masih dalam batas normal, penyebab kematian ratusan ikan yang sempat menggegerkan warga desa Banjar Kecamatan Taliwang, beberapa waktu lalu masih menjadi misteri.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menyampaikan, tidak ditemukan kandungan bahan kimia berbahaya yang melebihi ambang batas dalam sampel air maupun daging ikan yang telah diuji.“Hasilnya semua normal,” ungkap Kepala DLH KSB, Mars Anugerainsyah, kepada wartawan, Kamis (22/5).
Dari data laboratorium yang dirilis Balai Laboratorium Kesehatan Pengujian dan Kalibrasi Dinas Kesehatan Provinsi NTB, diketahui kandungan sianida dalam sampel air Sungai Banjar berada di bawah 0,01 mg/l, jauh di bawah batas baku mutu kelas 1 sebesar 0,02 mg/l. Kadar kalium pun masih dalam batas wajar sebesar 3,32 mg/l. Sementara hasil uji daging ikan oleh Laboratorium Universitas Mataram menunjukkan tidak ada deteksi kandungan logam berat seperti timbal (Pb) dan merkuri (Hg).
Meski telah mengantongi dua hasil uji tersebut, DLH menyatakan belum dapat menyimpulkan penyebab kematian ikan secara pasti. Salah satu alasannya adalah waktu pengambilan sampel air dan kematian ikan yang tidak bersamaan dengan kejadian.
“Untuk menentukan itu bukan ranah kami. Apalagi pengambilan sampel air dilakukan setelah kejadian,” jelas Mars.
Menanggapi kekhawatiran warga soal kemungkinan limbah dari aktivitas pengolahan emas di sekitar lokasi, DLH menyebut telah melakukan penelusuran bersama aparat kepolisian dan TNI. Namun, tidak ditemukan bukti pembuangan limbah ke sungai.
“Kami melakukan penelusuran saat itu bersama apparat, ada pihak kepolisian dan TNI. Kami melakukan penelusuran ke tiap-tiap Tong. Tidak ada bukti proses pembuangan limbah dari Tong ke sungai yang ditemukan,” akunya.
Tak tinggal diam, DLH tetap menindaklanjuti kasus ini dengan mengkoordinasikan langkah lebih lanjut ke Dinas LHK Provinsi dan Kementerian Lingkungan Hidup melalui Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Bali-Nusra.
“Kami bahkan telah merekomendasikan kasus ini ke Gakkum Kementerian LH agar penyelidikan lebih lanjut bisa dilakukan terhadap dugaan pelanggaran lingkungan lainnya di KSB,” tegas Mars.
Kendati hasil lab menyatakan normal, matinya ratusan ikan di Sungai Banjar menyisakan pertanyaan besar. Warga berharap, investigasi lanjutan tetap dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang dan ekosistem sungai tetap terjaga. (M-03)

