Siapkan Klaster Ekonomi Baru, BRIDA KSB Kaji Potensi Budidaya Kurma

Bagikan ke :

Taliwang, MediaKSB, – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menyiapkan strategi penguatan ekonomi daerah tahun 2026 dengan fokus pada penciptaan klaster ekonomi baru sebagai bagian dari agenda KSB Maju Luar Biasa tentang potensi budidaya buah kurma.

Kepala BRIDA KSB, Mars Anugerainsyah, S.Hut., M.Si., CGCAE, mengatakan, BRIDA tetap berperan sebagai supporting system bagi seluruh OPD, terutama dalam pengembangan riset yang berdampak langsung pada ekonomi masyarakat.

“Tahun ini kita tetap fokus support OPD untuk KSB Maju dan KSB Maju Luar Biasa, salah satunya menciptakan klaster ekonomi baru,” ujarnya saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Senin (19/1).

Salah satu riset baru yang tengah disiapkan BRIDA KSB adalah pengembangan budidaya tanaman kurma. Rencana ini telah dibahas sejak akhir 2025 melalui koordinasi antara BRIDA KSB dengan BRIDA NTB untuk menjajaki kerjasama riset lintas daerah.

“Kami sudah pernah berkunjung ke Kabupaten Lombok Utara (KLU). Berdasarkan riset BRIN, di KSB ini banyak lokasi yang sesuai dan strategis untuk kurma. Jadi di Lombok itu KLU dan pulau sumbawa di KSB,” jelasnya.

Menurut Mars, kurma dipilih karena dinilai memiliki potensi besar sebagai alternatif ekonomi jangka panjang, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan jenis tanaman.

“Ini bisa menjadi salah satu exit plan pasca tambang. Wilayah seperti Poto Tano itu tidak bisa ditanami tanaman lain. Dari riset dan informasi BRIN, kemungkinan kurma yang cocok,” katanya.

Meski membutuhkan waktu panjang untuk berbuah, Mars menilai budidaya kurma tetap menjanjikan. “Kurma itu jangka panjang, lima sampai enam tahun baru berbuah. Tapi setelah itu bisa menjadi sumber ekonomi baru,” ujarnya.

Selain riset kurma, BRIDA KSB juga menyiapkan penelitian terhadap produksi pupuk organik cair milik warga asli Maluk yang selama ini hanya diproduksi secara mandiri. “Ada salah satu orang di Maluk yang punya pupuk organik cair yang bagus. Kita rencanakan teliti kandungannya, bahannya, dan sebagainya,” ungkap Mars.

Pupuk tersebut selama ini belum diproduksi secara massal dan hanya digunakan untuk konsumsi pribadi. BRIDA KSB berupaya membantu untuk mengembangkan potensi tersebut untuk bisa masuk ke pasar yang lebih luas.

“Belum diperjualbelikan. Tapi hasilnya bagus, pertumbuhannya lebih cepat, lebih tahan, dan organik semua. Kalau nanti sudah kita teliti, bisa kita kembangkan skala massal. Ini bisa jadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat,” pungkas Mars. (M-03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *