Berlayar Bersama Egoisme: Terkikisnya Ruang Aman Perempuan di Selat Alas

Bagikan ke :
Foto: AI Illustration
Foto: AI Illustration

Berbagai fasilitas transportasi umum saat ini berlomba-lomba menyampaikan pesan tentang kenyamanan, kelayakan pengguna, dan layanan yang baik bagi seluruh penumpang. Spanduk promosi dipajang dan maklumat layanan disebarluaskan, seolah-olah ruang publik kita sudah sepenuhnya ramah dan terbuka bagi semua kalangan, khususnya bagi perempuan. Namun, baru-baru ini saya melihat sesuatu yang membuat saya terbangun saat menyeberang di Pelabuhan Tano-Kayangan.

Pengalaman itu tidak hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi juga di hati saya secara mendalam karena menunjukkan sisi lain dari realitas sosial kita saat ini. Pemandangan yang saya lihat di dalam kapal membuat saya tercengang dan terus berpikir: di mana sebenarnya tempat yang aman dan nyaman bagi perempuan?

Di tengah semua kampanye tentang kenyamanan transportasi publik, saya melihat pemandangan yang sangat menarik sekaligus memprihatinkan di atas kapal. Ruang menyusui atau ruang laktasi, yang seharusnya menjadi hak eksklusif, ruang aman, dan ruang privat bagi ibu untuk memenuhi hak bayi mereka, justru beralih fungsi.

Ruangan yang seharusnya steril dari pandangan publik serta penuh ketenangan malah digunakan  oleh kaum laki-laki yang tidak bertanggung jawab sebagai ruang istirahat. Mereka menggunakan ruang ini tanpa rasa bersalah, mengabaikan papan nama yang jelas tertera di pintu masuk. Mereka menutup mata terhadap fungsi utama ruangan privat yang sangat penting bagi kenyamanan ibu dan anak.

Dampak dari ketidakpedulian ini sangat buruk. Karena egoisme dan kurangnya kepedulian penumpang laki-laki, saya melihat sendiri betapa ibu-ibu terpaksa menyusui anak mereka di ruang terbuka yang dilihat oleh puluhan orang.

Pemandangan ini sangat memusingkan. Saya melihat seorang ibu berjuang keras, dengan rasa cemas dan tidak nyaman, untuk menutupi dirinya seadanya di tengah keramaian lalu-lalang penumpang di dek kapal. Banyak dari mereka harus berjalan jauh sambil menggendong anak yang menangis karena kehausan.

Ibu-ibu harus berkeliling di dek kapal hanya untuk mencari tempat yang sedikit lebih sepi dan tersembunyi dari pandangan penumpang lain. Hak privasi mereka terampas dan rasa hormat yang seharusnya mereka terima sirna di tengah lautan ketidakpedulian.

Fenomena sosial yang terjadi di atas kapal ini menunjukkan dengan jelas tentang satu hal. Krisis kesadaran kolektif masyarakat kita untuk menghormati dan memuliakan kaum perempuan sangatlah nyata. Ruang privat yang penting bagi seorang ibu dan bayinya sering kali direnggut oleh sikap acuh tak acuh.

Ini bukan hanya soal kelangkaan fasilitas fisik dari pihak pengelola. Ini adalah masalah besar mengenai turunnya moral, hilangnya rasa empati, dan ketidakmampuan sebagian orang untuk memahami batasan hak orang lain. Jika kita tidak bisa menjaga fungsi ruang yang diperuntukkan bagi kelompok rentan seperti ibu dan anak, berarti ada yang salah dalam cara kita bermasyarakat. 

Melalui tulisan ini, saya tidak ingin membahas kemajuan fisik transportasi atau keindahan destinasi wisata yang sering menjadi perbincangan. Saya ingin mengajak kita semua, terutama kaum laki-laki yang sering menggunakan fasilitas publik, serta otoritas kapal penyeberangan sebagai pemangku kebijakan, untuk menyadari hal penting ini.

Menciptakan fasilitas publik yang baik dan manusiawi bukan hanya tentang membuat ruangan berbentuk kotak dengan papan nama yang cantik. Lebih dari itu, keberhasilan sebuah fasilitas publik terletak pada bagaimana sistem dan manusianya dapat memperlakukan, menghormati, melindungi, dan memberikan rasa aman yang nyata bagi perempuan.

Slogan tentang kenyamanan, kemajuan, dan inovasi pariwisata serta transportasi publik akan terasa hampa jika tidak dapat menghormati hak dasar, privasi, dan kenyamanan seorang ibu yang berjuang menyusui anaknya di ruang-ruang publik. Perubahan tidak akan terjadi hanya karena ada peraturan tertulis. Perubahan harus dimulai dari munculnya rasa empati di dalam diri setiap orang untuk selalu menghargai ruang aman bagi perempuan.

Oleh: Putri Khusnul Khotimah (Siswi MAN 1 Sumbawa Barat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *