Menagih Janji “PESONA KSB”: Catatan Kritis dari sudut Pandang Pelajar

Oleh: Putri Khusnul Khotimah (Siswi MAN 1 Sumbawa Barat)
Sumbawa Barat sering kali dijuluki sebagai “Hidden Gem” atau permata yang tersembunyi. Sebagai pelajar yang aktif di dunia jurnalistik remaja, saya sering kali meliput atau hanya sekedar berkunjung melihat pesona di Sumbawa Barat. Keindahan alam KSB mencakup gugusan pulau eksotis di Selat Alas, ombak kelas dunia di pesisir selatan, hingga desa-desa di atas awan.
Namun, yang menjadi pertanyaan bersama kita saat ini: Sampai kapan kita ingin terus sembunyi? Saat Bali dan Lombok sudah menjadi destinasi global, KSB seolah masih berjalan di tempat, terjebak dalam bayang-bayang nama besar tetangganya. Padahal, jika berbicara tentang kualitas, kita dapat mengambil contoh satu desa yang sangat menginspirasi, yaitu Desa Labuhan Kertasari. Desa ini memiliki paket lengkap dengan tujuh garis pantai yang memukau, hutan mangrove, hingga tradisi Mbelu Pandan yang sarat akan nilai sejarah emansipasiperempuan. Tak hanya itu, desa ini juga telah meraih prestasi, yaitu masuk 300 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. Ini adalah bukti bahwasanya potensi kita telah diakui secara nasional.
Seperti yang diketahui, keindahan alam saja tidak cukup untuk menyejukkan mata dan menenangkan hati wisatawan. Keresahan mulai muncul saat melihat betapa kontrasnya antara potensi dan realitas di lapangan.
Tentang Infrastruktur Dasar
Sebagai wisatawan, kita tidak hanya mencari pemandangan yang indah, tetapi juga kenyamanan. Jika dipikirkan, bagaimana kita bisa bersaing jika akses jalan menuju lokasi wisata belum memadai atau minim pencahayaan? Gelapnya jalan raya bukan hanya soal estetika, tetapi soal keamanan bagi pengunjung serta warga lokal. Selain itu, sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai religius sehingga sering disebut dengan “Sumbawa Barat Berperadaban Fitrah”, sangat ironis rasanya jika di lokasi-lokasi wisata tidak ada tempat ibadah atau kurang terawat.
Tentang Keberpihakan pada UMKM Lokal
Pesona KSB tidak boleh hanya berhenti di lensa potret saja. Kita memiliki aset ekonomi kreatif yang luar biasa, seperti tenun lokal hasil tangan-tangan ajaib dari pengrajin desa, makanan-makanan khas yang menjadi ikon daerah tersebut. Tetapi sejauh mana panggung yang telah diberikan untuk mereka? Majunya pariwisata seharusnya berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakatnya. Jangan sampai wisatanya mendunia, tetapi UMKM tetap layu karena kurangnya pendampingan dan wadah strategis untuk berjualan.
Kami ingin para pengunjung tidak hanya pulang dengan dokumentasi yang indah. Tetapi juga dengan oleh-oleh hasil jerih payah para UMKM lokal, agar pariwisata dan UMKM berjalan beriringan dan saling menguatkan.
Melalui ajakan kolaborasi Media KSB ini, kami para pelajar ingin menguatkan kesadaran semua pihak. Membangun pariwisata KSB bukan sekadar membuat konten yang indah di media sosial, melainkan tentang membangun ekosistem yang matang. Kita butuh jalan yang terang, fasilitas yang memadai, dan UMKM yang berdaya.
Sudah saatnya KSB meninggalkan “Permata Tersembunyi” dan mulai menjadi “Permata yang bersinar”. KSB memiliki modal, dan yang saat ini KSB butuh yaitu aksi nyata untuk berani membenahi. (MR)
