Dinkes KSB: Posyandu Aktif 100 Persen Bukan Ukuran Akhir

Bagikan ke :
MEDIAKSB - Kepala Dinkes KSB, dr. Carlof.
MEDIAKSB – Kepala Dinkes KSB, dr. Carlof.

TALIWANG, MEDIAKSB – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), dr. Carlof, menegaskan capaian 100 persen Posyandu aktif belum menjadi ukuran akhir keberhasilan transformasi layanan kesehatan.

Hal itu ia sampaikan dalam Orientasi Pembinaan Kader Posyandu bagi Tenaga Kesehatan yang berlangsung 28–31 Oktober 2026 di Mataram. Kegiatan ini merupakan kerja sama Dinkes KSB dengan Balai Pelatihan Kesehatan Mataram, Kementerian Kesehatan RI.

Dr. Carlof menilai, keberhasilan Posyandu tidak cukup diukur dari keaktifan kegiatan setiap bulan. Posyandu, kata Carlof, juga harus memastikan masyarakat berisiko memperoleh layanan yang dibutuhkan.

“Posyandu yang berhasil bukan hanya Posyandu yang aktif setiap bulan. Posyandu harus mampu menjangkau seluruh kelompok usia dan mengenali masyarakat yang berisiko,” tegasnya.

Saat ini, sebanyak 232 Posyandu di wilayah 10 Puskesmas di KSB telah tercatat sebagai Posyandu Siklus Hidup Aktif. Ratusan Posyandu itu didukung 1.492 kader aktif yang menggerakkan partisipasi dan edukasi masyarakat.

Karena itu, Dinkes KSB mengarahkan penguatan Posyandu pada pelayanan sepanjang siklus kehidupan. Sasarannya mulai dari ibu hamil, bayi dan balita, anak usia sekolah, remaja, usia produktif, hingga lanjut usia.

Penguatan tersebut juga menyentuh kualitas kader. Dari 1.492 kader aktif, sebanyak 1.251 kader telah memiliki status strata dalam Microsite, sedangkan 241 kader lainnya belum memilikinya.

Data itu menjadi dasar Dinkes KSB memperkuat pembinaan, penilaian keterampilan, dan peningkatan kompetensi kader secara berkelanjutan. Tenaga kesehatan didorong membina kader menguasai 25 keterampilan dasar, termasuk pengenalan risiko dan kunjungan rumah.

“Ada pembagian peran yang jelas antara kader dan tenaga kesehatan. Kader bertugas mengenali dan melaporkan risiko, sedangkan keputusan klinis tetap menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan,” tegasnya.

Menurut Carlof, pendekatan ini mengubah orientasi pelayanan dari menunggu masyarakat datang menjadi lebih proaktif dan berkesinambungan. Setiap temuan di Posyandu pun harus mendapatkan tindak lanjut yang cepat dan tepat.

“Yang lebih penting adalah bagaimana kita mampu mengenali kebutuhan kesehatan masyarakat, mendeteksi risiko lebih dini, dan memastikan setiap temuan memperoleh tindak lanjut,” jelasnya.

Tindak lanjut itu didukung TRC Ambulans berbasis Puskesmas yang telah mencatat 38.348 layanan sepanjang 1 Januari hingga 26 Oktober 2026. Layanan ini menghubungkan temuan risiko di Posyandu dengan pelayanan langsung di rumah warga.

Di akhir Dr. Carlof menegaskan, keberhasilan transformasi layanan primer harus terlihat dari manfaat yang dirasakan masyarakat. Seluruh kekuatan yang ada harus bekerja secara terintegrasi hingga tingkat keluarga.

“Setiap risiko harus dikenali, setiap kebutuhan harus direspons, dan setiap pelayanan harus memiliki tindak lanjut,” pungkasnya. (M-03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *