Dusun Otak Keris Jadi Target Utama Intervensi STBM Maluk

MALUK, MEDIAKSB – Dusun Otak Keris menjadi salah satu target utama intervensi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Desa Maluk. Kepala Desa Maluk, Baharuddin menegaskan, dusun Otak Keris menjadi titik eksekusi utama sesuai dengan keputusan bersama dalam rapat internal sebelumnya.
“Salah satu target utama kita ada di Dusun Otak Keris untuk melakukan eksekusi di dalam pelaksanaan intervensi STBM di Desa Maluk ini,” tegasnya saat dialog lanjutan pelaksanaan STBM di desa Maluk, Senin (02/11).
Fokus intervensi berangkat dari hasil survei yang sudah rampung di Desa Maluk. Baharuddin mengungkapkan hasil tersebut masih berstatus merah sehingga forum dialog harus melahirkan langkah tindak lanjut sesuai target.
“Pelaksanaan survei di desa kita sudah selesai, hasilnya masih merah. Sehingga pada hari ini harus kita tentukan langkah apa saja yang harus kita lakukan,” ungkapnya.
Soal kendala terbesar, Baharuddin menyoroti kondisi resapan pembuangan. Kades menyebut, Desa Maluk secara umum sudah memiliki resapan, tetapi kondisinya kini sudah buruk sehingga perlu dimaksimalkan melalui dukungan alat dari dinas terkait.
“Ini yang menjadi masukan bagi kita agar lebih memaksimalkan resapan yang ada dengan bantuan alat dinas terkait. Ini untuk solusi yang cepat dan masuk akal,” jelasnya.
Pilihan itu, lanjut Baharuddin, tidak lepas dari kondisi di lapangan. Kades menilai warga tidak mungkin lagi diminta menggali di titik yang sama.
“Karena kalau kita minta warga kita untuk menggali di tempat dan lubang yang sama, ini sudah tidak mungkin,” tuturnya.
Baharuddin pun mengajak seluruh peserta dialog berperan aktif. Kades meminta setiap masukan dari pemerintah daerah segera mendapat tindak lanjut.
“Mari sama-sama kita proaktif untuk berdiskusi dan segera menindaklanjuti apa saja yang menjadi masukan dari pemerintah daerah,” imbaunya.
Sementara itu, Rahman Muliadi, dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KSB merinci koordinasi awal mencatat sekitar 188 rumah tangga sudah melalui pendataan dan pemetaan. Penentuan sasaran intervensi, kata Rahman, mengacu pada hasil sosialisasi bersama Dinas Kesehatan.
“Kalau mengacu pada hasil sosialisasi dengan Dinas Kesehatan, yang akan kita lakukan intervensi yang berada di zona warna kuning dan merah,” paparnya. (M-02)
