Riset Hijau AMMAN: Laboratorium Alam untuk Reklamasi Tambang yang Lebih Baik

Bagikan ke :

Setelah batu berubah menjadi katoda, perjalanan pertambangan belum berakhir. Setiap tambang pasti meninggalkan jejak pada tanah, air, dan lingkungan. Jejak itulah yang menuntut pemulihan agar lahan tidak berhenti menjadi lubang gersang. Di titik inilah AMMAN membuat laboratorium hijau, ruang riset dan praktik reklamasi berkelanjutan.

Suatu pagi di Desa Tongo, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), cahaya matahari belum tinggi. Budi Iswanto memperhatikan barisan polybag yang berisi bibit tanaman endemik. Bersama istrinya dan beberapa pemuda setempat, Budi memeriksa tingkatan pertumbuhan setiap bibit.

“Setiap pucuk yang tumbuh adalah harapan baru bagi desa kami. Dengan ini kami juga membantu kegiatan reklamasi AMMAN,” ujarnya, menyeka keringat dari dahinya.

Pemantauan keberhasilan reklamasi juga dilakukan dengan teknologi canggih. AMMAN mengadopsi teknologi pemanfaatan citra satelit dan Unmanned Aerial Vehicle (UAV). 

Dari hasil pemantauan citra UAV tersebut, AMMAN menggunakan analisis Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) untuk mengetahui tingkat kehijauan, tutupan tanaman, hingga nilai biomassa atau serapan karbon khususnya di area reklamasi.

Baik usaha yang dilakukan Budi dan komunitasnya, maupun teknologi terbaru yang digunakan AMMAN, reklamasi bukan sekadar pekerjaan teknis. Reklamasi merupakan bentuk dari sebuah “harapan” melalui laboratorium hijau berkelanjutan.

Tambang Pasti Meninggalkan Jejak

Setiap aktivitas tambang, terutama tambang terbuka, selalu menorehkan bekas. Baik berupa lapisan tanah topsoil terangkat, struktur tanah terganggu, hilangnya vegetasi, sekaligus potensi erosi dan degradasi lahan.

Tantangannya adalah bagaimana mengembalikan lahan bekas tambang agar dapat mengembalikan fungsi ekosistem dan menjadi tempat hidup bagi tumbuhan, habitat satwa, dan memulihkan siklus air.

Reklamasi, dalam praktik konvensional, seringkali dianggap “menanam pohon di atas lahan gersang.” Tapi pertanyaannya, apa jenis tanaman yang cocok, bagaimana unsur tanah dapat dipulihkan, dan bagaimana pemantauan keberhasilan secara ilmiah. Tanpa riset dan adaptasi yang memadai, reklamasi bisa saja menjadi stagnan, bahkan gagal hingga jangka panjang.

AMMAN menghadapi tantangan ini dengan memosisikan area bekas tambang sebagai laboratorium hijau, sebuah medan eksperimen terukur untuk menguji metode, teknologi terkini, partisipasi masyarakat, bahkan mengubahnya menjadi lahan ekonomi masyarakat, agar reklamasi tidak sekadar simbolik tapi ekosistemik.

Foto: Lahan reklamasi AMMAN (amman.co.id)

Pemantauan Melalui UAV & Citra Satelit (NDVI)

Dalam kegiatan reklamasi, AMMAN mengadopsi teknologi terkini dengan memanfaatkan citra satelit dan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dalam melakukan pemantauan keberhasilan reklamasi.

Dari hasil pemantauan citra UAV tersebut, AMMAN menggunakan analisis Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) untuk mengetahui tingkat kehijauan, tutupan tanaman, hingga nilai biomassa/serapan karbon khususnya di area reklamasi.

NDVI merupakan sebuah metode penginderaan jauh, memanfaatkan rasio panjang gelombang cahaya kanal Merah dan NIR (Near-Infrared Radiation) dari citra satelit ataupun foto udara untuk mengukur tingkat kerapatan ataupun kesehatan vegetasi suatu wilayah.

Nilai NDVI terukur berkisar antara -1 hingga 1, di mana nilai positif NDVI menunjukkan areal yang bervegetasi, nilai negatif NDVI menunjukkan areal tidak bervegetasi, dan nilai NDVI yang mendekati 0 menunjukan areal dengan kerapatan vegetasi jarang.

Mudahnya, AMMAN menggunakan teknologi UAV (drone) dan citra satelit untuk memantau kemajuan vegetasi di area reklamasi. Melalui analisis NDVI, tim dapat dengan mudah melihat area mana yang hijau, mana yang masih terdegradasi, dan mengidentifikasi tanaman mana yang tumbuh dengan optimal.

Dalam laporan resminya, data menunjukkan per hektar di area reklamasi bisa mencapai lebih dari 625 pohon, dan struktur vegetasi akhir menjadi lebih baik daripada hutan alami dalam hal jumlah dan komposisi (menurut pemantauan oleh pihak ketiga).

Senior Manager Corporate Communications AMMAN, Dinar Puja Ginanjar, menjelaskan bahwa AMMAN melakukan reklamasi secara paralel seiring berjalannya operasional penambangan.

Setiap tahun, AMMAN memiliki rencana area yang akan direklamasi sesuai dengan rekomendasi tenaga ahli.  Program reklamasi juga telah dilakukan sesuai dengan Peraturan Pemerintah dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). 

“Berhasilnya program reklamasi area tambang AMMAN karena kami melakukannya dengan serius dan berbasis riset. Program reklamasi tidak hanya untuk menutup bekas area tambang dengan pohon, namun juga untuk membentuk lereng yang stabil, mengembalikan fungsi kawasan menjadi hutan dalam penataan air dan mengembalikan berbagai jenis flora dan fauna endemik di wilayah tersebut,” jelasnya.

Usaha reklamasi ini juga dapat dilihat secara langsung pada salah satu bukit yang bersebelahan langsung dengan area tambang Batu Hijau. Setelah dilakukan reklamasi, kondisi bukit tersebut saat ini tertutup oleh vegetasi flora endemik seperti binong, ipil (merbau), kayu batu, dao, aren dan rotan. 

Tingkat keanekaragaman hayati juga terus meningkat, dibuktikan melalui pemantauan burung, kelelawar, dan satwa liar melalui camera trap di area reklamasi. Sementara fauna seperti Elang Bondol juga kerap kali terlihat terbang di area kawasan hutan tersebut.

“Seluruh upaya yang kami lakukan ini merupakan bagian dari perwujudan visi perseroan untuk memberikan warisan terbaik bagi masyarakat dan lingkungan. Kami percaya apa yang kami lakukan hingga hari ini dapat membawa manfaat bagi masyarakat lingkar tambang maupun KSB pada umumnya, khususnya upaya kami dalam menjaga kelestarian hutan sebagai komitmen berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan ekosistem alam di KSB.” tutup Dinar.

Foto: Community nursery program reklamasi AMMAN (amman.co.id)

Community Nursery

Salah satu pilar inti program AMMAN adalah pembibitan melalui community nursery (nursery komunitas). Warga lokal yang sebelumnya adalah petani pembibitan di Desa Tongo, Sekongkang, dan desa lingkar tambang lainnya kini menjadi pengelola bibit tanaman endemik. Hingga saat ini, sekitar 145.000 bibit tanaman endemik telah disuplai ke area reklamasi dari nursery komunitas.

Pada 2023, AMMAN meraih penghargaan Subroto Award dari Kementerian ESDM untuk inovasi program community nursery dan pemberdayaan masyarakat (termasuk aspek lingkungan). 

Kerja sama dengan nursery komunitas tidak hanya soal suplai bibit, tetapi juga aspek teknis pembibitan, seperti seleksi induk, adaptasi bibit ke kondisi ekstrem, perawatan awal, dan rotasi jenis tanaman. Proses koleksi bibit dilakukan berdasar data fenologi pohon sejak tahun 2001 untuk perencanaan produksi bibit yang sesuai musim.

Di sisi mekanis, AMMAN juga telah membangun plant nursery permanen dengan kapasitas 70.000–100.000 bibit per tahun di area konsesi. Selain itu, untuk mengendalikan erosi di lereng-lereng curam, AMMAN memanfaatkan sabut kelapa dan serat ijuk sebagai coconet dan ijuk blanket, dua bahan lokal yang dirancang untuk mencegah longsor dan menjaga kelembaban tanah.

Hingga 2024, area reklamasi yang sudah memakai coconet dan ijuk blanket mencapai 799,53 hektar dan terus berkembang.

Foto: Kegiatan penanaman bibit Mangrove di Labuhan Lalar, Taliwang (amman.co.id)

Reklamasi Laut

Tidak hanya di darat, upaya pelestarian lingkungan juga dilakukan AMMAN di wilayah perairan Sumbawa Barat. Pada tahun 2024, AMMAN bekerja sama dengan masyarakat setempat, melakukan pembibitan dan penanaman 2.000 bibit mangrove dan 1.000 propagul (buah mangrove yang berkecambah) di Perumahan Apung Labuhan Lalar, Taliwang.

Menariknya, kegiatan ini juga melibatkan generasi muda dan bahkan anak-anak. Lebih dari 370 pelajar, guru dan tenaga pendidik dari SDN Labuhan Lalar terjun langsung dalam kegiatan penanaman tersebut.

“Kami sangat senang dan bangga dapat berkolaborasi dengan AMMAN dalam kegiatan penanaman bibit mangrove. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami, khususnya para pelajar SDN Labuhan Lahar, untuk belajar tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Kepala Sekolah SDN Labuhan Lalar, Sudirman.

AMMAN sendiri hingga kini secara konsisten terus mendukung dan menginisiasi berbagai program pelestarian lingkungan yang strategis dan terukur sebagai wujud komitmennya untuk memberikan manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan yang berkesinambungan bagi masyarakat di area AMMAN beroperasi.

“Program penanaman mangrove perlu mendapatkan pemeliharaan, perawatan, dan pemanfaatan lanjutan agar dapat berkembang dengan baik. Kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya hutan mangrove perlu ditanamkan sejak dini melalui Pendidikan Lingkungan Hidup berbasis Mangrove,” ujar Kartika Octaviana, Vice President Corporate Communications dan Investor Relations AMMAN.

Foto: Pananaman bibit tanaman endemik (amman.co.id)

Pemulihan Ekologi dan Ekonomi Sosial

Sejak operasi tambang Batu Hijau hingga akhir 2023, AMMAN telah mereklamasi lahan seluas 718 hektar dari total area terbuka 3.291 hektar, dan menanam sekitar 1,53 juta pohon dengan 99 varian bibit lokal.

Selain itu, dalam laporan resminya, AMMAN menyatakan penggunaan metode ilmiah dan teknologi selama proses reklamasi menghasilkan struktur vegetasi yang menurut pemantauan pihak ketiga secara umum lebih baik dari hutan alami. Hingga 2024, area reklamasi yang sudah memakai coconet dan ijuk blanket mencapai 799,53 hektar dan terus berkembang.

Pemberdayaan masyarakat setempat juga tak luput dari laboratorium AMMAN. Di Jereweh, ibu-ibu rumah tangga diberdayakan sebagai pekerja dalam pembuatan ijuk blanket. Di tengah peran mereka dalam mengurus rumah tangga dan membesarkan anak, kini mereka turut berkontribusi dalam menggerakkan roda ekonomi lokal melalui penghasilan tambahan.

AMMAN tidak serta merta melepas masyarakat yang telah diberdayakan. Melalui skema kemitraan ini, AMMAN berperan sebagai pembeli utama yang menjamin pasar bagi usaha lokal yang baru dirintis. Beberapa pelaku usaha bahkan mulai menjajaki pasar di luar ekosistem AMMAN, menandakan daya saing dan ketahanan ekonomi yang menjanjikan.

“Melalui program AMMAN ini, kami para ibu rumah tangga bisa mendapatkan penghasilan tambahan yang sangat berarti,” kata Fatimah, salah seorang ibu rumah tangga.

“Lebih dari itu, kami juga diajari bagaimana mengubah bahan yang tadinya dianggap kurang berguna seperti sabut kelapa dan ijuk, menjadi barang yang bermanfaat dan punya nilai ekonomi tinggi. Ini ilmu yang sangat berharga dan membuat kami merasa lebih berdaya,” tambahnya.

Bagi Budi yang berhasil memproduksi bibit tanaman dan Fatimah sebagai pengusaha ijuk blanket, program reklamasi AMMAN tidak hanya berhasil mengembalikan ekosistem lingkungan bekas tambang. Lebih jauh lagi, program reklamasi AMMAN mampu menggerakkan ekonomi lokal dan bahkan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat.

Foto: Lahan reklamasi AMMAN (amman.co.id)

Reklamasi: Awal Kehidupan Baru

Ketika bibit yang dikelola Budi merambat menjadi kanopi baru, dan jemari terampil Fatimah menyulap limbah menjadi barang bernilai tinggi, teranglah bahwa reklamasi AMMAN bukanlah Bab akhir yang diceritakan. Melainkan titian baru menuju ekosistem hidup yang menghidupkan dan berkelanjutan. AMMAN telah berhasil menyulap lahan bekas tambang menjadi laboratorium hijau, tempat riset, pemanfaatan teknologi, dan kolaborasi sosial lintas generasi.

Penghargaan-penghargaan yang diraih seperti Subroto Award 2023, standarisasi The Copper MarkGood Mining Practice Award 2024, World’s Most Trustworthy Companies 2024, dan Prisma dari Kementerian Hak Asasi Manusia tahun 2025, menjadi pengakuan eksternal bahwa model reklamasi berbasis riset dan partisipasi bukan hanya citra semata, melainkan praktik nyata yang dilakukan AMMAN untuk reklamasi hijau berkelanjutan.

Dari pit Batu Hijau yang diperpanjang usianya pada Fase 8, menuju ke Smelter yang mengolah batu menjadi katoda, hingga riset hijau yang menumbuhkan kembali kehidupan. Kisah AMMAN adalah perjalanan teknologi, ekonomi, dan lingkungan yang saling terkait dan berkelanjutan. Cerita reklamasi AMMAN melalui laboratorium hijau tidak boleh berhenti sampai di sini.

Riset harus terus berjalan, teknologi harus terus dipertajam, masyarakat lokal harus terus dilibatkan dan dipertahankan perannya. Bila semuanya tetap dijaga, bekas tambang bukan sekadar tanah mati, melainkan laboratorium hijau yang memunculkan kehidupan baru untuk Sumbawa Barat dan Indonesia yang lebih baik. (M-04)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *