Dari Batu Menjadi Katoda: Teknologi Smelter AMMAN untuk Hilirisasi Nasional
Cerita dari pit Batu Hijau tidak berakhir di truk pengangkut bijih. Perjalanan panjang dari batuan tambang telah sampai pada babak baru di smelter AMMAN, di mana panas ribuan derajat dan teknologi Double Flash Smelting mengubah bongkahan tak berwujud menjadi katoda tembaga murni, emas, dan logam mulia lain yang siap menggerakkan ekonomi Indonesia.
Ketika mantan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, meresmikan Smelter Tembaga dan Pemurnian Logam Mulia milik PT Amman Mineral Industri (AMMAN) di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Nusa Tenggara Barat, menjadi momentum dari babak baru pertambangan di Indonesia.
Saat ini Indonesia menjadi selangkah lebih maju dari sisi pengelolaan sumber daya alam terutama pada sektor tambang. Hasil tambang yang selama ini hanya berupa bijih mentah, telah mampu diolah melalui teknologi super canggih sehingga mampu menambah nilai jual berupa katoda tembaga, emas, perak, hingga selenium dengan standar kemurnian dunia.
“Dengan beroperasinya smelter ini, Indonesia tidak lagi sekadar mengekspor bahan mentah, tetapi benar-benar masuk dalam rantai nilai global,” tegas mantan Presiden Indonesia dua periode, Joko Widodo.
Oleh karenanya, diresmikannya Smelter AMMAN juga menjadi tonggak penting dalam upaya pemerintah untuk menciptakan hilirisasi industri mineral dan memperkuat ketahanan industri nasional.
“Diresmikannya smelter AMMAN ini menandai Indonesia telah memasuki babak baru dalam hilirisasi industri tembaga, dan menyongsong Indonesia menjadi negara industri maju dengan mengelola sumber daya alamnya sendiri. Saya apresiasi niat baik dan keberanian AMMAN,” ujarnya.

Smelter sebagai Babak Baru
Kebangkitan industri pertambangan Indonesia melalui fasilitas Smelter memberikan angin segar kepada masyarakat dengan dibukanya lowongan pekerjaan yang sangat besar. Dari proses pembangunannya saja, AMMAN berhasil memberikan 7.000 lapangan pekerjaan dan hampir 80 persen pekerja merupakan tenaga kerja asal berbagai wilayah di Indonesia dari berbagai disiplin ilmu, salah satunya dari Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan persentase yang cukup signifikan.
Tak berhenti pada pembukaan lapangan pekerjaan, pelatihan vokasi juga telah diberikan kepada pekerja lokal agar nantinya mereka dapat turut andil dan berperan aktif dalam pembangunan proyek besar ini.
Untuk memastikan pengerjaan operasional nantinya dapat berjalan dengan baik, lebih dari 150 karyawan telah menjalani pelatihan khusus di salah satu smelter tembaga terbesar di Daratan Tiongkok, yang memiliki pengalaman lebih dari 50 tahun. Hasilnya, AMMAN berhasil mencapai target yang telah ditetapkan Pemerintah Indonesia dan memastikan kualitas konstruksi dari pembangunan Smelter yang bertaraf internasional.
Tidak hanya dari sisi Sumber Daya Manusia, fasilitas Smelter AMMAN ini memiliki berbagai teknologi yang sangat memukau dan membuat geleng kepala. Fasilitas Smelter AMMAN dapat menampung kapasitas input hingga 900 kilo ton per tahun (“ktpa”) konsentrat dari tambang Batu Hijau dan tambang Elang di masa mendatang dengan tingkat kemurnian hampir mencapai 100%.
Produk dari fasilitas peleburan ini diproyeksikan berupa katoda tembaga yang mencapai 222 ktpa dengan kemurnian 99,99% dan asam sulfat mencapai 830 ktpa dengan kemurnian 98,5%. Selain itu, fasilitas pemurnian logam mulia akan menghasilkan 18 ton per tahun (“tpa”) emas olahan dengan kemurnian 99,99%, 55 tpa perak olahan dengan kemurnian 99,95%, serta 77 tpa selenium dengan kemurnian 99,9%.

Double Flash Smelting: Proses Optimal dengan Efisiensi Tinggi
Pada artikel sebelumnya tentang teknologi 4D Blasting, batuan dibedakan dengan menghitung secara presisi terkait tekanan, waktu, dan arah energi dikendalikan. Setelah batuan diledakkan, material berharga diangkut dengan efisiensi tinggi. Manajemen stockpile bijih, didukung oleh teknologi survei laser scanner, memastikan setiap ton material ditangani dengan cermat, meminimalkan kehilangan dan memaksimalkan produktivitas.
Setelah batuan dihancurkan dan diangkut, tahap selanjutnya adalah pemrosesan untuk memisahkan logam berharga dari material lainnya Di sinilah teknologi Froth Crowder memainkan peran penting. Dengan meningkatkan laju pengangkutan buih dan penarikan massa, teknologi ini mampu meningkatkan recovery tembaga secara signifikan.
Salah satu keunggulan dari smelter AMMAN terletak pada penerapan teknologi Double Flash Smelting yang digadang-gadang menjadi satu-satunya teknologi pemurnian terbaik yang dimiliki Indonesia dengan tingkat akurasi dan kecepatan yang tinggi serta penggunaan sumber daya eksternal yang rendah.
Mengapa demikian? Ternyata teknologi double flash smelting AMMAN ini bekerja dalam dua tahap, yakni flash smelting dan flash converting. Di tahap pertama, konsentrat tembaga dipanaskan dengan oksigen dan gas alam hingga 1.270°C, menghasilkan matte tembaga. Tahap kedua, flash converting, melebur matte tersebut pada suhu 1.240°C untuk menghasilkan tembaga blister.
“Teknologi yang kami terapkan di smelter ini tidak hanya menghasilkan tembaga dengan kualitas terbaik, tetapi juga menekan biaya dan mengurangi emisi sulfur dioksida dan karbon dioksida. Ini adalah bukti bahwa inovasi bisa berjalan seiring dengan keberlanjutan,” ujar Kartika Octaviana, Vice President Corporate Communications AMMAN.
Melalui teknologi tersebut, AMMAN mampu mengintegrasikan teknologi tingkat tinggi dengan kesiapan SDM yang mumpuni, sehingga tim dapat bekerja lebih cerdas dengan hasil yang maksimal.
“Teknologi ini dapat menggantikan pekerjaan manual dan menyederhanakan proses sehingga seluruh karyawan kami dapat lebih optimal dalam berkreasi mencari solusi terbaik untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Hal ini sejalan dengan nilai inti dan visi misi kami,” tambahnya.
Untuk menambah efektivitas dari proses operasional, Smelter AMMAN ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas tambahan dengan teknologi paling mutakhir. Seperti Air Separation Unit untuk pasokan gas oksigen dan nitrogen ke fasilitas utama dan fasilitas penyediaan air bersih desalination and demineralization water(DDW) baru dengan teknologi membran sea water reverse osmosis yang canggih untuk suplai kebutuhan air.
Seluruh teknologi yang ada menempatkan Indonesia setara dengan negara-negara maju yang memiliki kemampuan pengolahan mineral dengan standar yang tinggi.

Tantangan dan Harapan
Dibalik fasilitas teknologi yang tinggi, tantangan yang harus dihadapi juga tidaklah kecil. Proses komisioning menuntut standar keselamatan yang sangat tinggi, pengelolaan limbah dan emisi yang menuntut untuk perlu terus diawasi.
Sementara dampak sosial terhadap masyarakat sekitar harus dikelola dengan sikap transparansi. Selain itu, fluktuasi harga tembaga global dan kebijakan ekspor tambang dari pemerintah pusat juga bisa mempengaruhi proyeksi ekonomi perusahaan. Hal ini juga sangat berpengaruh pada ekonomi daerah dan ekonomi nasional.
Meski demikian, keberadaan smelter AMMAN menjadi bukti bahwa Indonesia mampu menguasai teknologi pemurnian mineral yang selama ini identik dengan negara industri maju. Dari batu konsentrat yang ditambang di perut bumi Sumbawa Barat, lahirlah katoda tembaga yang menopang industri otomotif, energi terbarukan, hingga teknologi digital dunia.

Bagaimana Jika Semua Selesai?
Smelter adalah simbol dari transformasi teknologi industri Indonesia. Dari batu mentah menjadi katoda tembaga yang mampu menopang dan memasok industri global. Tetapi, di balik teknologi dan hilirisasi, ada satu pertanyaan besar, apa yang akan diwariskan ketika tambang suatu saat berhenti? Jawaban itu lahir dari riset hijau dan reklamasi, tema besar yang menjadi bagian ketiga dari trilogi ini. (M-01)

