Pendatang Baru Ubah Peta Penurunan Stunting di Sumbawa Barat
Taliwang, MediaKSB, – Upaya Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dalam menurunkan angka stunting menghadapi tantangan baru. Mobilitas penduduk yang cukup tinggi, terutama kedatangan penduduk baru dari luar daerah, mulai memengaruhi peta penurunan stunting di Sumbawa Barat. Akibatnya, meski secara faktual kasus stunting terus berkurang, angka penurunan yang tercatat di sistem data terlihat melambat dan cenderung statis.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) KSB, Agus Purnawan, S.Pi., MM, menjelaskan, data ePPBGM per Agustus 2025 menunjukkan angka stunting di Sumbawa Barat berada di angka 6,9 persen atau sekitar 690 anak.
Angka ini memang lebih rendah dibanding bulan-bulan sebelumnya, namun tren penurunannya tidak signifikan.
“Secara umum penanganan stunting kita sudah sangat efektif, tapi ada faktor yang membuat datanya seolah-olah tidak turun banyak. Itu karena dinamika migrasi penduduk,” ujarnya, Kamis (23/10).
Agus menuturkan, tambahan angka stunting setiap bulan tidak selalu berarti kasus baru atau kelahiran baru di KSB. Kadis mensinyalir, sebagian besar berasal dari warga pendatang yang membawa anak-anak dalam kondisi stunting.
Begitu mereka mendapat pelayanan di Posyandu, data anak-anak tersebut secara otomatis tercatat dalam sistem di daerah. “Padahal, anak-anak kita banyak yang sudah keluar dari status stunting. Tapi jumlahnya tertutup oleh data pendatang baru yang masuk,” jelasnya.
Kondisi ini, lanjut Agus, menimbulkan tantangan dalam membaca capaian penurunan angka stunting secara murni. Agus menilai perlu adanya formulasi tegas dalam pendataan lintas daerah, agar anak dari luar daerah yang menimbang di KSB tetap terdata di wilayah asalnya.
“Kita ingin angka yang benar-benar mencerminkan hasil kerja daerah. Jadi boleh mereka timbang di sini, tapi datanya jangan otomatis tercatat di sistem kita,” tambahnya.
Meski menghadapi tantangan tersebut, Agus menegaskan pemerintah tetap berkomitmen melanjutkan upaya percepatan penurunan stunting. Kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah desa, dunia pendidikan, hingga masyarakat, akan terus diperkuat.
Agus juga menegaskan bahwa pencegahan stunting harus dimulai dari hulu, yakni sejak masa sebelum kehamilan, dengan memastikan calon ibu selalu mengkonsumsi makanan-makanan yang bergizi.
“Penanganan stunting tidak bisa instan. Ini kerja panjang, dan kita tetap optimistis bisa menurunkannya secara berkelanjutan,” tutupnya. (M-03)

