Meski Melandai, Distan KSB Terus Perkuat Edukasi Rabies

Taliwang, MediaKSB, – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) memastikan edukasi penanganan gigitan hewan penular rabies terus digencarkan meski tren laporan kasus mulai melandai.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Distan KSB drh. Hikmatul Azmy menyebut kasus rabies umumnya memuncak pada bulan tertentu sebelum berangsur turun.
“Berdasarkan pola yang ada, biasanya bulan Juni memang lagi tinggi-tingginya, lalu akan turun,” katanya saat dikonfirmasi di kantornya, Rabu (05/8).
Meski tren menurun, Azmy menegaskan edukasi kepada masyarakat tidak boleh dikendurkan, khususnya terkait penanganan awal begitu terjadi gigitan hewan. “Yang harus terus-menerus itu sebenarnya edukasi, terutama soal penanganan ketika kena gigitan,” ujarnya.
Kabis mencontohkan, korban gigitan wajib patuh menjalani jadwal vaksin antirabies (VAR) hingga tiga kali pengulangan tanpa boleh terputus di tengah jalan. “Kalau sudah kena gigitan, itu patuh dengan jadwal karena sampai tiga kali pengulangan vaksin,” jelasnya.
Hikmatul menambahkan edukasi soal penanganan pertama, seperti mencuci luka gigitan sesegera mungkin, menjadi kunci mencegah risiko fatal meski laporan kasus sedang tidak tinggi. “Penanganan awal itu sangat penting, karena kalau telat dilaporkan, risikonya bisa berbahaya,” katanya.
Di sisi penanganan kasus, Azmy menjelaskan hewan yang diduga menggigit korban akan diobservasi selama 14 hari sebelum diambil keputusan medis lanjutan. Jika hewan tersebut masih hidup dalam masa observasi, statusnya dapat dipastikan tidak menular.
“Kalau hewannya bisa ditangkap, kami observasi 14 hari. Kalau dalam waktu itu dia masih hidup, berarti bisa dipastikan tidak positif,” jelasnya.
Namun jika hewan mati atau sengaja dimatikan warga, sampel akan dikirim ke laboratorium di Bali karena fasilitas pemeriksaan serupa belum tersedia di NTB. Hasil laboratorium itu menjadi penentu apakah vaksinasi korban perlu dilanjutkan atau dihentikan.
“Kalau hasilnya positif, informasi itu kami teruskan ke Puskesmas untuk melanjutkan vaksin kedua dan ketiga,” tuturnya.
Distan juga terus memperluas jangkauan edukasi kelompok hingga ke desa-desa di setiap kecamatan sebagai bagian dari upaya pencegahan jangka panjang. Menurut Azmy, sejumlah kecamatan sudah mulai menjalankan proses tersebut.
“Sekarang setiap kecamatan sudah ada petugas yang mendata, dan sebagian sudah mulai proses vaksinasi kelompok. Senin lalu di Kecamatan Brang Ene sudah terlaksana” ungkapnya.
Selain edukasi vaksinasi, Azmy juga menyoroti pentingnya koordinasi antara Distan dan Puskesmas dalam menindaklanjuti hasil pemeriksaan sampel hewan penggigit. Azmy menyebut hasil laboratorium menjadi penentu apakah vaksinasi korban perlu dilanjutkan atau dihentikan.
“Kalau hasilnya positif, informasi itu kami teruskan ke Puskesmas untuk melanjutkan vaksin kedua dan ketiga,” tutupnya, (M-03)
